Mamaku Diperkosa


Aku adalah seorang lelaki berusia 16thn dan memiliki naluri seks yang lumayan tinggi.Aku 2 bersaudara dan tinggal bersama mamaku dikota medan sejak sekitar 6 bulan lalu.Papa dan mama tinggal terpisah karena pekerjaan.Papa tinggal di-Riau sementara kakaku tinggal di bandung dan sedang kuliah.5bulan lalu terakhir kali keluarga kami mengumpul dirumah mama yang tidak terlalu besar ini.Sejujurnya,ada 1 alasan kenapa mama dan papa tinggal terpisah.Mama adalah seorang wanita karir yang telah berusia 52 tahun dan memiliki pangkat yang tinggi diperusahaan jepang.Jangan salah,walau telah berusia mama masih terlihat cantik dan memiliki tubuh yang tetap segar.Bahkan mama sempat diwawancarai oleh beberapa majalah wanita karena kecantikanya itu.Suatu kebiasaan mama adalah berolahraga 5-15 ment seusai subuh.Itulah yang membuatnya tampak segar.Alasan kenapa papa dan mama hidup terpisah adalah karena papa kurang suka melihat mama pulang malam karena kerja.Tak jarang mereka cek-cok.Secara diam-diam mama mengatur kepindahanya kekota medan ini.Beberapa temanku yang pernah berkunjung kerumah sempat berpikir kalau mamaku adalah istri muda ayahku.Tapi setelah kujelaskan,mereka mengerti dan dengan jujur berkata”sumpah,mama lu cantik banget..kayak bidadari…coba itu jadi istri bapak gua,udah habis gua kent*t”kata seorang temanku,rocy.
Karena kedekatanku dengan rocy,kubiarkan rocy memandangi tubuh mama hingga puas bahkan ia menyemprotkan maninya di cd-nya.Hingga suatu hari,aku berikan rocy video hasil rekamanku ketika mama mandi.Ia sangat berterima kasih dan dengan bahagia ia menonton video ibuku yang bugil dari ujung rambut sampai ujung kaki.Bola matanya seakan mau lepas ketika melihat vagina mamaku yang ditumbuhi bulu-bulu jembut yang lumayan lebat.Hingga videoku belum habis ia kembali menyemprotkan maninya di cd-nya.Lama-kelamaan hubunganku dengan rocy semakin dekat.Suatu hari,ketika kami sedang nonton bokep bareng.Rocy memberiku sesuatu yang sangat penting.Dengan takut iya mengatakan padaku
“bro…lu ikutin kata gua..besok kita cabut sekolah…mama lu dalam bahaya..lu harus cepat nolongin dia…”.
“bahaya kenapa?”tanyaku dengan serius hingga mempause film bokep yang sedang kami putar.”iya..2 hari yang lalu,gua pergi main kerumah bang adul,bang adul itu anak dari bos mama lu…om nando orang batak itu,dia pengen bawa mama lu ke kebunnya”kata rocy.”trus kenapa?”tanyaku masih belum mengerti.”om nando bakal ngent*t paksa mamalu,karena mamalu hampir buat om nando dipecat dan bang adul sendiri yang memberi saran sama papanya agar tante ely(mamaku) diperkosa aja..lu tau kan bapak ma anak sama gilanya,maklum om nando kan sudah menduda sejak 5 tahun lalu”kata rocy yang membuat jantungku mau putus.”gimana caranya roc?lu harus bantuin gua”kataku sedikit keras.”tenang bro,kita ini sahabat,gua pasti nolong lu kok…besok naik mobil gua kita ikutin kemana mereka pergi…pokoknya lu tenang aja,tapi”rocy menghentikan pembicaraan.”kita gak bisa nolong nyokap lu,kita cuma bisa nonton…om nando gak sendirian,banyak anak buahnya yang berbadan besar..”kata rocy yang kembali membuatku bingung.”udah la bro,lu relax aja…gua tetep bantu lo kok…tu denger mama lu pulang…dah matikan komputernya”kata rocy.Setelah menyusun rencana kami keluar dari kamar.”tante rocy pulang ya”pamit rocy kepada mamaku sambil mencium tanganya yang putih mulus.Sejenak kupandang wajahnya yang cantik.

Setelah mengantar rocy sampai pagar,aku masuk kerumah dan mandi.Selesai mandi aku makan malam dengan mama.Kupandang tubuh mama yang malam itu dibalut daster tanpa lengan.Sungguh-sungguh menawan,gumanku dalam hati.Selesai makan,mama mengaku capek dan langsung tidur begitu juga denganku.Esok harinya,aku berangkat lebih dulu dan menunggu rocy disimpang jalan.Ketika aku pamit mamaku hanya dengan memakai bh dan cd dikamarnya.Aku cium tanganya dan pipinya.”pergi berangkat sekolah dulu ma ya”kataku.”ya hati-hati ya..”jawab mama.AKu sempat mencolek payudaranya yang berbalut bh hitam.”ich genit kamu..”kata mama dengan senyuman dan tanganya memukul lembut pundaku.Di simpang jalan,rocy sudah menunggu.Aku masuk kedalam mobil rocy.Kami menunggu sampai mobil om nando lewat.Hanya berselang 10 mnt,mobil fortuner silver lewat.Kami mengikuti mobil yang berisi om nando dan anaknya adul.Dari kejauhan,kami melihat mobil itu berhenti didepan rumah dan supir mobil itu turun dan membukakan pintu belakang untuk mama.Pagi itu mama terlihat cantik dan sexy dengan mengenakan jas biru dengan daleman tank top putih dan rok biru se-betis.Dengan menenteng tas warna hitam mama masuk kedalam mobil silver itu.
Lalu,kami mengikuti mobil fortuner itu.Dan rocy memang benar teman sejatiku.Ia mengetahui tempat yang dituju oleh om nando yang berjarak 70km dari kota kami.Singkat cerita,rocy memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah kedai kecil disamping sebuah jalan sempit yang hanya bisa dilalui 1 mobil.Kami lebih dulu sampai ketimbang om nando dan bang adul.”lokasinya berada didalam jalan ini,ayo kita masuk sebelum mereka masuk”kata rocy.Rocy mengaku pernah dibawa bang adul kesini dan ia hafal betul tempat ini.Ternyata kedatangan rocy disambut dengan para pekerja kebun om nando.Dengan uang 100rb kepada sang ketua keamanan kami mendapat tempat yang strategis,yaitu disebuah pos yang letaknya tak jauh dari sebuah rumah kecil ditengah kebun yang luas ini.Dari pos ini,kami bisa melihat dengan jelas semuanya.Dan hanya berselang beberapa menit mobil fortuner yang membawa mamaku tiba.Para pekerja yang berjumlah sekitar 20org ini bergerumun 5 mtr dari mobil ini.
Dan pintu mobil itu terbuka.Pertama bang adul yang bertubuh besar turun dari pintu depan,lalu om nando dan yang terakhir adalah mamaku.Mamaku turun dari mobil masih berpakaian lengkap.Tapi tangan kananya memegang sebuah tisu yang mengelap pipi putih mama yang dibasahi tetesan air mata dari matanya yang indah.Mama berjalan mendekati om nando yang pagi itu memakai koas berkerah dan celana panjang hitam yang berdiri dihadapan anak buahnya.Posisi mama saat itu diapit oleh 2 lelaki yaitu om nando dan adul.
“saudara,saudaraku…”kata om nando dengan keras dihadapan para anak buahnya.”hari ini akan menjadi hari bahagia buat kita semua terutama untuk saya dan anak saya…karena,wanita cantik yang berdiri disebelah kanan saya ini telah bersedia menjadi permaisuri saya…”om nando berkata dengan lancang sambil tanganya berada dipundak mama.Rocy memandang wajahku yang penuh ketakutan dan diam membisu.Sementara itu kulihat para kuli memandang nakal mamaku yang cantik.Rata-rata kuli-kuli itu berusia 20-40an terkaku.”nama wanita ini adalah elly,kalian bisa memanggilnya nona elly…kita persilakan permaisuriku ini memperkenalkan dirinya”kata om nando melempar senyuman kewajah mama yang terlihat sedih dan ketakutan.Sementara itu para kuli bertepuk tangan menyambut.Dengan suara manisnya mama memperkenalkan dirinya”nama saya elly,saya sudah berusia 52tahun dan baru saja menjadi permaisuri bang nando”mama menghentikan pembicaraanya.Tanganya mengelap air mata yang membasahi wajahnya.
Dengan tersedu-sedu mama melanjutkan.”cincin ini menjadi bukti resmi kalau saya telah menjadi permaisuri bang nando…nomer bh saya 36b…saya sangat mencintai lelaki yang bernama nando,untuk itu saya minta dia untuk memasuki penisnya kedalam vagina saya”kata mama yang menangis tersedu-sedu.Sementara itu para kuli mengeksperikan kata-kata mama dengan gelak tawa.Dan om nando terlihat hanya tersenyum dengan putranya.Mama menangis dengan lembut.”lanjutkan-lanjutkan”kata om nando mengelus-ngelus punggung mama.Mama terlihat memandang om nando yang menganggukan kepalanya.”bang nando,ayo kita keranjang saya sudah tak tahan…”kata mama dengan tangisan sambil memeluk om nando yang tertawa bersama para kuli dan putranya.”itulah masih hukuman awal bro”kata rocy yang mengajaku berpindah kehalaman belakang rumah.Om nando memeluk mamaku dan membawanya masuk kesebuah rumah kayu yang tidak terlalu besar.Sementara para kuli terlihat bubar.
Singkat cerita aku dan rocy berada diatas asbes(langit-langit) rumah itu.Dari sebuah bolongan angin yang tidak terlalu besar kami mengintip.ketika kami sampai disitu,kami mendapati mama menangis tersedu-sedu dipinggir tempat tidur seorang diri.Dan setelah itu om nando masuk dengan suara tawa.”ha..ha…ha..itulah sebabnya kalau kau bermain-main denganku wanita sok jujur”kata om nando sambil melepas kaos berkerahnya.Om nando yang bertelanjang dada mendekati mama dimulut tempat tidur.Tangan kanannya melepas tali pinggang kulit dari celananya.tlaak…suara cambukan om nando begitu keras.”aughhhhh…… sakit”desah mama kesakitan.”cepat lepas pakaianmu sebelum tangan-tangan halusku ini yang membukanya”kata om nando.Mama yang terus meneteskan air mata berdiri dari tempat tidur.Ia menuruti peritah om nando untuk mencopot penutup tubuhnya.Jari-jari manis mama mencopot 1 per 1 kanci jas biru mama.Jas itu lepas dan jatuh ketempat tidur.Om nando mengelus kumisnya ketika mama melepas kancing rok-nya dari belakang.serr…rok itu jatuh.Terlihat jelas cd hitam melindungi pantat dan bagian kewanitaan mama yang ditumbuhi bulu-bulu halus.Dan pintu kamar itu terbuka dan sedikit mengejutkan dua pasang manusia ini.Ternyata anak om nando,bang adul masuk membawa 2 botol bir.Ia mendekat papanya yang berdiri 2 mtr dari mama dan memberikan sebotol bir untuk papanya.Mama menghentikan sejenak aktivitasnya dan memandang ke-dua lelaki yang sedang menegak bir bersama.
“ngapain kau lihat,ayo lanjutkan”kata om nando.Wanita yang memiliki rambut sebahu ini menurukan tali tank topnya.Dan akhirnya tubuh mama yang putih mulus dan memiliki sepasang gunung yang menggoda yang masih terlindungi oleh bra hitam dipandang langsung oleh 2 lelaki yang tidak memiliki status resmi denganya.”wow…”desah bang adul.Sementara itu,aku menjadi sangat terangsang.Begitu juga dengan rocy yang dari tadi terlihat meremas penisnya.”sini…”kata om nando.Mama yang hanya mengenakan bh dan cd hitam melindungi bagian intimnya mendekati seorang lelaki yang sedang mengendalikanya.Mama dengan wajah ketakutan berdiri diri didepan om nando yang memegang botol bir.”akh…”teriak mama ketika om nando menarik kuat bh mama hingga lepas dari tubuh mama.Payudara mama yang tak pernah tersentuh oleh laki-laki lain menggantung bebas.Kemudian om nando memegang kepala mama dan mencium bibir mama.
Permainan pun berlanjut.Dengan posisi berdiri,om nando mencium bibir mama dengan ganas.Mama memejamkan matanya yang basah dan merah.Tanganya seolah menekan kepala mama hingga lidahnya semakin dalam mengobrak-abrik mulut suci mama.”akh…”desah mama ketika om nando mencabut mulutnya selama 2 detik.Tampak beberapa tetes cairan keluar dari mulut mama.Om nando kembali melanjutkan aksinya menciumi bibir mama.Sementara itu bang adul terlihat duduk dikursi yang ada didepan papanya yang sedang asyik mencumbu ibuku.Om nando menghentikan aksinya dan berpindah ke sepasang gunung kembar yang menggantung bebas.Dimulai dari payudara sebelah kanan.Mulut om nando menghisap puting susu mama.”ahh shh..”mama mendesah kecil.Lidahnya bermain disekitar daerah puting.Kemudian tangan kananya meremas-remas payudara mama.”lepas cd mu…cepat…”kata om nando sebelum berpindah kepayudara mama sebelah kiri.Ia melakukan aksi yang sama.Mula-mula ia melahap payudara mama.Kemudian menghisap puting susu mama yang berwarna coklat.Lalu lidahnya bermain disekitar daerah kehitaman mama.Mama yang memejamkan matanya dan masih menangis berusaha melepas cd-nya.Cd yang menutupi memiawnya itu sudah lepas dan jatuh kelantai.Tampak jelas bulu-bulu halus yang menghiasi bibir vaginanya yang berwarna merah.
Setelah mengetahui bahwa cd hitam mama telah jatuh om nando menghentikan aksinya,ia sempat menegak bir yang ada ditangan kirinya sebelum mendorong mama ketempat tidur.bugg…tubuh mama menghantam kasur yang empuk.Lalu om nando menyirami tubuh mama dengan sebotol bir.’hha..aha…”tawa om nando.Cairan bir itu membasahi sekujur tubuh mama.Mama hanya bisa mendesah dan menutupi kedua payudaranya dan pepeknya dengan kedua tanganya seraya berkata”jangan pak,jangan….ampun”.Tapi kata-kta mama dihiraukan oleh pak nando.Ia melepas celana panjang dan cdnya sebelum melompat kekasur menimpa mama.Tubuhnya menindih tubuh mama dan kembali mencium bibir mama yang berwarna merah.”adul,cepat kau ambil kalung emas peninggalan ibumu yang ada dilemari”teriak om nando yang kembali melanjutkan ciumanya.”ini pa..”kata adul memberikan sebuah kalung emas yang sangat cantik dan mahal harganya kepada papanya.Lalu om nando memakaikan kalung itu keleher mama.”kau mengingatkan ku pada bkas istriku yang pergi dengan selingkuhanya…elly,sekarang kaw menjadi sarana pelampiasan emosiku”kata om nando yang kemudian menampar keras pipi mama secara bolak balik.Suara tangisan mama terdengar keras,sangat keras.Kedua tangan mama memegangi pipinya yang berbercak merah.Om nando melanjutkan aksinya dengan menjilati leher mama yang halus.Mama menangis dan terlihat tetesan darah keluar hidungnya sebelah kiri.Mungkin tamparan tadi mengenai hidung mama.
Aku saat itu sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa.Om nando terlihat mencupang leher mama hingga berbekas merah.Lalu dengan wajah yang ganas om nando menjilat puting susu mama sebelah kiri.Kemudian menggigit puting mama dengan keras.Mama menangis dan teriak dengan sangat-sangat kuat.”aaaaaaaagggggggggghhhhhhhh…..saaaaaaaakkiitt…”teriak mama.Aku yakin pasti suara itu sampai keluar,tapi tidak ada terlihat 1 orang pun dari depan kaca yang mengintip.plaak….om nando menampar payudara mama sebelah kiri hingga berbekas merah.Kemudian dia menciumi bibir vagina mama.”ough..betapa harumnya vaginamu ini elly..”kta om nando sebelum mendaratkan lidahnya dibibir vagina mama.Mama terus menangis.Lidah nakal om nando naik turun menjilati vagina mama.hmmh…desah om nando.Om nando menghisap vagina mama.Sementara itu anaknya,adul menikmati aksi papanya dengan sebotol bir nya tadi.Pinggul mama bergoyang ketika om nando menyentil kelentitnya.”akh…”desah mama ketika om nando mencubit pantatnya.Setelah puas dengan vagina mama,om nando menjambak pelan rambut mama hingga memaksakan mama untuk menungging ditempat tidur.Om nando mengarahkan penisnya yang mengacung panjang kemulut mama.Tanpa diperintah,dengan menutup mata mama menghisap penis om nando.Awal-awal,kepala penis om nando masuk,kemudian pertengahan dan dengan paksaan om nando menekan penisnya hingga penisnya 90%masuk kemulut mama.Mama terlihat tersendak dan memukul-mukul kasur.”akhh….”desah om nando menikmati isapan mulut mama.Hampir 1 mnt penis om nando berada menusuk dalam-dalam mulut mama yang kecil.Om nando mencabut penisnya.Mama terbatuk-batuk dan mengeluarkan beberapa tetes cairan dari mulutnya.
“kamu ga coba dul…nikmat lo”kata om nando menawari anaknya.”engga pa,papa dulu aja…lihat pa kayaknya dia nantang tu”kata adul memanas-manasi papanya.Om nando mendorong mama hingga mama kembali ke posisi terlentang.Kedua kaki mama diangkat hingga dipundak om nando.”jangan bang,tolong hentikan…”desah mama dengan isak tangis ketika mengetahui bahwa om nando telah bersiap memasukan penisnya yang berukuran 18cm itu kedalam liang kewanitaanya yang sempit dan basah.Om nando menggesek kepala penisnya dibibir vagina mama.Dan slurrp….seluruh penisnya masuk kedalam vagina mama.akhh…..desah mama ketika merasakan penis om nando yang panjang dan besar berada didalam vaginanya.Perlahan om nando mulai memompa penisnya dengan sangat pelan.
Saat itu,kurasakan penisku sangat keras.Aku juga ingin berada pada posisi om nando.Lama kelamaan,om nando mulai mempercepat pompaanya.Mamaku terus menangis dan mendesah sedikit.Mama membuka matanya dan memandang kearah langit-langit.ahh…sh..desah mama dengan suara yang kecil.ah…desah om nando semakin mempercepat pompaan penisnya divagina mama.Hingga mama menggelinjang dan tanganya meremas kasur tempat tidur dan terdengar suara teriakan kecil dari bibirnya yang merah.ohhhh…..mama mendesah dan om nando menusuk dalam-dalam penisnya divagina mama.Mama orgasme untuk yang pertama dan mama terlihat sedikit malu.Bang adul membuka seluruh pakaianya dalam sekejap.Penisnya terlihat lebih besar sedikit dari punya om nando.Om nando memerintahkan mama untuk nungging.
Dari belakang om nando kembali menancapkan batang zakarnya kedalam vagina mama.”aouhh…..”desah mama menutup mata.Sementara itu dari depan bang adul mengelus rambutnya dan mencium bibir mama.Om nando kembali memulai pompaanya.Mama terlihat sangat pasrah menghadapi ke-2 lelaki yang menyerangnya dari 2 arah.Sambil berciuman,tangan bang adul meremas-remas kedua payudara mama yang bergerak maju mundur mengikuti irama pompaan om nando.Mama hanya menutup mata dan meneteskan air mata.plaak…om nando memukul belahan pantat mama.”oh.,,”erangnya dan semakin mempercepat pompaanya.Hingga bang adul mencabut bibirnya yang melekat dari bibir mama dan tangan bang adul meremas-remas kedua payudara mama.”ahgghhhhhh….ohhhhh….”desah mama panjang dengan suara yang agak keras.Om nando kembali munusuk dalam-dalam penisnya divagina mama.Tampak expresi wajah puas dan senang dari om nando.Mereka kembali merubah posisi.Mama berada diatas tubuh om nando.kemudian om nando kembali menusuk penisnya divagina mama.ah,…sh….desah mama.”bang..hen..ti..kan….”erang mama diiringi dengan suara tangis.”iya,sebentar lagi”kata om nando dengan santai dan terus memompa penisnya divagina mama.Sementara tu bang adul mengacungkan penisnya didepan mulut mama.
Tanpa diperintah,mama meraih penis itu dan menjilati penis itu.Bang adul menutup matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar ketika mama menghisap kepala penisnya.Lidah mama menari-nari dikepala penis bang adul yang berwarna merah.Aku sangat yakin kalau mama sudah berada digenggaman kedua lelaki ini.Kulihat rocy,ia mengocok-ngocok penisnya sendiri sementara aku masih menahan nafsu.”mamalu memang siipp….”bisiknya.Bang adul menyorong penisnya hingga hampir masuk seluruhnya dimulut mama yang kecil.Saat itu om nando juga mempercepat gerakanya.Mata mama terbuka dan tanganya memukul kasur.bang adul mencabut penisnya dan mama mendesah”ahhh….ahh…oh..stop….”.Dan selang beberapa detik om nando juga berteriak”akh…”.Ia menusuk lebih dalam penisnya.Mama terlihat sangat lemas berada diatas tubuh om nando.Om nando menjilat kupingnya.Ternyata mama orgasme dengan sangat dashyat diiringi dengan pelepasan benih-benih sperma oleh om nando.Seluruh benih-benih jantan om nando memenuhi liang kewanitaan mama.Om nando membiarkan penisnya berada didalam vagina mama.Tanganya mengelus-ngelus punggung mama yang dibasahi keringat kenikmatan birahi.Lalu om nando mencium pipi mama yang juga dibasahi oleh tetesan air mata kenikmatan.
“sory kalau aku tadi main kasar…”katanya seraya mencium jidat mama.Mama tidak menjawab dan masih menangis.Om nando mencabut penisnya yang mengecil dari vagina mama.Kemudian ia berdiri dan membiarkan tubuh mama terlentang tanpa sehelai benang pun diatas kasur.”sekarang giliran saya tante elly”kata bang adul sambil mengurut-ngurut penisnya yang panjang.Mama memandang kearah bang adul lalu kearah om nando yang duduk dikursi menyalakan rokoknya.Bang adul memulai permainan dengan mencium bibir mama terlebih dahulu.Lalu ia menancapkan penisnya kedalam vagina mama yang baru saja dibasahi sperma om nando.Mama sedikit mendesah ketika penis bang adul masuk kedalam vaginanya.Perlahan bang adul memulai pompaanya.Karena seorang yang menyukai olah raga,tampak badan bang adul yang berotot ketika memompa mama dengan sangat cepat.akhh…oh…..ahh…sh…desah mama dan tetap diiringi dengan tetesan air mata.Tak perlu berlama-lama bagi bang adul untuk membuat mama orgasme.Dengan sedikit tambahan pompaan,mama menggelinjang dan mendesah ahhhhhhhh……terlihat beberapa tetes cairan keluar dari celah-celah vaginanya.Lalu bang adul mencabut penisnya.
Ia mendudukan mama dipinggangnya.sluurpp….penisnya kembali masuk kepepek mama.”ayo goyang…ayo goyang”kata bang adul.Mama dengan mata tertutup menggoyangkan pinggulnya dengan pelan-pelan.”ya begitu….ohh…”erang bang adul.Dan semakin lama goyangan mama semakin cepat.Payudara mama yang menggantung bebas bergoyang naik turun.Dan suasana saat itu sangatlah panas sekali.Melihat mama yang bergoyang naik turun diatas pinggang bang adul,om nando mengambil botol bir bang adul yang menyisakan 1/4 air.Ia naik keatas tempat tidur dan menyiram kepala mama.”aakhhhh….”desah mama ketika merasakan air bir yang tumpah membasahi rambutnya.Mama terus memompa bang adul.Hingga mama menghentikan pompaanya dan mendesah “akhhhhh….”. Sementara itu bang adul hanya menutup matanya menikmati cairan yang menyemprot batang zakarnya.Bang adul mencabut batang zakarnya.Ia mencabut penisnya dan mendudukan mama yang basah diatas kasur.”ayo kocok…”katanya menampar pipi mama dengan batang penisnya.Karena takut mama segera meraih penis itu dan mengocok dengan perlahan.Kemudian lidah mama menari-nari dikepala penis bang adul.Mama menghisap setengah penis itu dan mengeluarkanya lagi.Dan menghisap setengah lalu mengeluarkanya lagi.Jari-jari mama mengocok penis bang adul dan menghisap kepala penis yang berwarna merah.”akhhh….”desah bang adul sambil menekan kepala mama hingga penisnya tertancap dimulut mama.Ternyata bang adul orgasme.Ketika ia mencabut penisnya,penisnya bersih dan air maninya berada dimulut mama.”telan…telan”kata bang adul.
Sambil menutup mata,mama menelan mani bang adul.Bang adul turun dari kasur dan meninggalkan mama yang basah diatas kasur.Bang adul duduk disebelah papanya.”gimana asyik…”tanya om nando kepada bang adul.Anggukan kepala yang menjadi tanda kepuasaan bang adul.Sementara itu mama terus menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.Om nando mendekati mama dan memeluknya dari belakang.Ia sandarkan kepala mama dipundaknya.”sudah lah,untuk apa kau menangis,ini masih awal elly…kau masih harus menghadapi beberapa cobaan yang harus kau hadapi…itulah sebabnya kalau kau bermain dengan lelaki yang bernama nando”kata om nando menghisap rokoknya.Kulihat rocy sedang mengelap penisnya yang basah spermanya.Kulihat jam ditanganya menunjukan pukul 11.30.”ma….maafkan saya bang”kata mama dengan manis.”ia tapi kau harus melewati ujianku nanti sore dan malam…”kata om nando.”jadi nanti malam kita nginap disini”tanya mama dengan wajah penasaran.Om nando mengganggukan kepalanya dan mama kembali meneteskan air mata.”apa kau tidak tertarik menjadi istriku elly?kau akan memiliki semua yang kau mau,aku bisa membuatkan surat palsu yang menyatakan perceraianmu dan kita bisa menikah,jujur semenjak kita bertemu beberapa tahun yang lalu aku sangat menginginkan saat ini,saya dimana aku memperdayamu”kata om nando.Mama tidak menjawab.Bang adul memakai celana pendeknya dan keluar.Om nando bangkit dan memakai celananya.
Lalu sesosok perempuan yang agak tua diatas mama masuk kedalam kamar.”tuan,air kembang untuk mandi permaisuri elly sudah saya siapkan…”kata wanita ini.”oh ya,elly ikut lah dengan ibu ini,bu bawa ibu ini dan selesai mandi rias dia”kata om nando memerintah.Tanpa sehelai benangpun mama ikut dibawa oleh ibu ini.Aku dan rocy tidak perlu bergerak lama,karena lokasi mandi dapat kami lihat dengan cara berjalan jongkok sejauh 3mtr.Tampak sebuah bak bulat dipenuhi oleh bunga-bunga.Lokasi ini sangat alami.Mama masuk kedalam bak mandi itu.Sekujur tubuh mama dibasuh oleh wanita tua ini.Kemudian selesai mandi,mama didudukan disebuah bangku kemudian wanita tua itu mengasapi selangkangan mama dengan sbuah alat yang aku tak tahu.Lalu mama dibawa oleh kesebuah ruangan yang aku tak dapat masuk.Rocy mengajaku keluar.Aku keluar dan kembali ke pos awal.Kami menyuruh seorang anak buah dari kepala keamaan tadi untuk membeli makan.15 mnt kemudian makanan kami datang dan para kuli terlihat berkumpul disebuah pendopo.Om nando dan adul sudah terlebih dahulu berada disana.”kita tunggu permaisuriku”kata om nando.Terlihat sejumlah makanan telah terhidang dihadapan mereka.”itu dia ha…”teriak bahagia om nando ketika melihat mama datang.
Rambut mama terikat cantik,wajah mam juga semakin cantik dengan riasan dan paling sedap dipandang adalah pakaian mama yang membuatnya tampak menggoda.Mama dipakaikan daster 1 tali yang masing2 berada dipundak mama.Daster itu hanya sampai 15cm dari betis mama yang sexy.Tampak jelas paha mama yang putih mulus.Dan mama karena daster itu berbahan sutra yang tipis sehingga puting mama membercak.Mama berjalan melewati para kuli yang menahan nafas birahinya.Kemudian mama duduk disebelah om nando yang hanya memakai singlet dan celana pendek.Om nando mencium pipi mama.Lalu mereka mulai makan begitu juga dengan kami.Rocy menyuruhku agar tetap tenang.Mama terlihat makan dengan sedikit dan minum air putih.Om nando memang sangat jahat,dengan sangaja ia menyikap bawahan daster mama dan wurr…tampak vagina mama yang sudah bersih dari bulu-bulu jembut.”bang”erang mama.Para kuli terlihat tertawa kecil.
Singkat cerita,mama dibawa jalan om nando mengelilingi kebunya yang ditumbuhi berbagai macam tanaman.Aku dan rocy hanya memantau dari pos.Mama terlihat diam dan tak ada expresi kesenangan terpancar dari wajahnya.Sekitar jam 3 para kuli kembali berkumpul dipendopo.Mama,om nando dan bang adul berada tepat didepan para kuli.”sebelum kalian pulang,permaisuriku ingin memberikan kalian sebuah hadiah…bukan begitu?”kata om nando mencolek pipi mama.Sepertinya para kuli sudah mengerti,mereka membentuk bulatan.”ayo mulai”kata om nando kepada mama.Mama menari-nari ditengah para kuli.Para kuli menyambutnya dengan tepuk tangan dan sahutan.Kemudian mereka mengeluarkan penis mereka dan mengocok-ngocok dengan kedua tanganya.Mama bergoyang kesana kemari.Tangan mama meremas-remas payudaranya sendiri dari balik dasternya.”buka bajumu”perintah om nando dari tempat duduknya.Suasana semakin panas dan menantang ketika kain yang menutupi sekujur tubuh mama terjatuh kelantai.Tampak jelas tubuh mama yang putih mulus dan bagian kewanitaan mama yang bersih tanpa sehelai rambutpun.Dengan canggung mama bergoyang kesana-kemari.Wajah para kuli pun terlihat semaki mengganas dipenuhi birahi.Jari-jari mama memplintir sendiri puting susu mama yang berwarna coklat.Om nando dan bang adul dengan santai melihat aksi mama.Sementara aku dan rocy mulai terbawa suasana panas itu.AKu tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika papa mengetahui hal ini.Lalu mama menjilat jari tengah tangan kirinya dan menusukan jari itu kedalam vaginanya.Dengan mata tertutup mama mengoral sendiri vaginanya.Suara gelak tawa keluar dari orang-orang yang berada disekelingnya.
Setetes air mata tampak kembali menetes dari matanya.Dengan suara desahan mama mengeluar masukan jarinya dari dalam vaginanya.Ingin sekali aku menghentikan aksi mama,namun apa daya.Mama sudah dikuasai oleh om nando.Dan aku yakin mama akan melakukan aksi gila dari akal-akal om nando.1 orang kuli menembakan maninya dan menampungnya ditanganya.”berikan air itu kepada permaisuriku,dia tahu bagaimana cara memainkanya…”kata om nando dari kursinya.Lalu lelaki ini berjalan mendekati mama yang masih menusuk-nusuk vaginanya dengan jari tengahnya.Mama menampung air mani lelaki itu ditangan kananya.Separuh air mani yang tak terlalu banyak itu mama minum.DAn setengah lagi ia taruh dijari tengahnya.”ayo masukan”kata om nando.Dan dengan perlahan jari mama yang basah itu masuk kedalam liang rahim mama.”akhhh…”desah mama.Lagi-lagi,sperma lelaki lain bersarang dirahim mamaku.Aku tak tahan melihat hal itu.Mama terus menusu-nusuk vaginanya hingga sperma yang ada ditanganya larut divaginanya.Aksi itu terus berlanjut.Secara bergantian,para lelaki ini memberika mama sperma mereka.Sebagian sperma mama minum dan lainya masuk kedalam liang rahimnya.Hingga bersisa seorang lelaki.Saat itu mama dengan posisi menungging menusuk-nusuk vaginanya.Lelaki yang sudah berumur lebih tua dari om nando ini mendekati om nando.”tuan saya mohon tuan mau memberikan saya izin untuk memuaskan permiasuri tuan…”kata lelaki yang mempunyai penis yang sangat besar ini.Kalau kutebak ukuran penis itu kira-kira 22cm dengan diameter 6cm.Om nando memandang wajah laki-laki yang duduk dihadapanya.”silakan,kau kuijinkan untuk menikmati permaisuriku,”kata om nando.”trima kasih tuan”kata laki-laki itu yang langsung mendekati mama.Mama menghentikan aksinya.Laki-laki itu memeluknya erat dari belakang.
“akh…sh…”desah mama ketika ke-2 telapak tangan kasar lelaki ini meraba payudara mama.Lidahnya menjilati leher mama yang basah berkeringat.Suasana semakin erotik ketika tangan lelaki ini mengarahkan penisnya yang sudah mengacung dari tadi kelubang surgawi mama.”oughh…sh…pelan-pelan…”desah mama ketika kepala penis lelaki ini masuk kedalam vaginanya.Dengan sedikit sulit penis lelaki ini masuk kedalam vagina mama.”akkhhhhhh….”desah mama ketika seluruh penis laki-laki ini bersarang divaginanya.Ia mulai memompa dengan perlahan.Lidahnyya tetap bermain menjilati leher mama yang indah dan kedua tanganya meremas-remas payudara mama yang padat dan kenyal.Mama mendesah begitu dahsyat.Tubuhku kembali dialiri aliran birahi yang membuatku menikmati suasana.Aku seperti kehilangan akal dan menginginkan lebih banyak lelaki menyetubuhi mama.Mama mengeluh kenikmatan.Tubuhnya semakin basah.Dan tak lama kemudian terdengar mama berteriak”ooohhhhhhhhh….”.Mama mencapai puncaknya begitu juga dengan lelaki ini.Mama menutup matanya.Kupikir ia senang ternyata mama meneteskan air mata kembali dari matanya yang indah.Laki-laki itu mencabut penisnya dan mama langsung tergeletak lemas dilantai.Vaginanya tampak basah cairan putih-putih dan setetes demi setetes cairan yang memenuhi liang rahimnya itu keluar dari bibir vaginanya.Om nando dan adul tidak memberikan expresi apa-apa.Lelaki ini menutup celananya.Dan berjalan kearah om nando.”terima kasih tuan..”katanya.Om nando mempersilakanya untuk pergi.Sementara itu ibuku yang cantik tergolek lemas diatas lantai.Om nando mendekatinya.Mama melempar senyuman manis kearah om nando.Lalu om nando memanggil wanita tua yang tadi memandikan mama.”bersihkan tubuhnya”kata om nando kepada wanita ini lalu pergi meninggalkan mama.
Singkat cerita malam tiba.Aku dan rocy menumpang mandi dirumah seorang kuli yang mengetahui keberadaan kami.Sekitar jam 7 malam kami kembali.Kami kembali kepos tadi.Tak lama kemudian terlihat sebuah mobil ford triton twin cabin datang.Dari mobil itu turun seorang lelaki jepang dan seorang bule.Kedua lelaki itu berbadan sangat besar,lebih besar dari bang adul.Kira-kira tinggi mereka 190cm keatas.Om nando yang memakai kemeja dan celana panjang menyambut ke-2 lelaki ini dengan gelak tawa dan snyuman.Rocy mengajaku untuk kembali ke asbes.Kami berada tepat diatas sebuah ruangan yang berisi sebuah segitiga lengkap dengan kursinya yang bergaya oriental.Terlihat beberapa amplop berada ditas kedua lelaki ini.Pintu terbuka dan om nando masuk bersama sang permisuri yang terlihat cantik dengan kimono nya.Rambut mama dibuat terikat kebelakang bergaya jepang dan pipinya berwarna merah.Sungguh-sungguh menawan.Aku sangat yakin mama tidak memakai daleman apapun.kedua lelaki ini sangat tertarik ketika melihat kehadiran mama.Ketika mama bersalaman dengan mereka,tangan mama dielus dan dicium.Permainan pun dimulai.Mama duduk dipangkuan om nando yang sedang bermain kartu dengan 2 lelaki asing ini.
Sesekali bibir om nando mencium pipi mama dan tanganya meremas-remas payudara mama.Itu terlihat membuat ke-2 lelaki asing ini iri.”ha…ha…ummph…”tawa om nando diiringi dengan mencium pipi mama karena ia telah berhasil memenangkan game yang pertama.Selama 3 game pertama,om nando menang dan selalu mencium pipi dan leher mama.”akan kuberikan kau emas,mobil bahkan rumah untuk kau dan aku…”katanya sambil memasukan uang hasil taruhan kedalam tas kecilnya.Dan game-4 om nando kalah dan dimenangi oleh orang jepang.Dan di-game kelima om nando berhasil memenangkan taruhan senilai US$ 1800 atau senilai dengan 17jtan.Mama menempelkan kepala om nando yang mencium lehernya kebagian pertengahan dadanya.Wajah dari ke-2 orang asing ini terlihat memanas.Mereka dari tadi sudah menggaruk-garukan selangkanganya.Mereka mengeluarkan 5amplop yang berisi uang dari tas mereka dan melemparnya keatas meja.Om nando memandang kearah 2orang lelaki ini.Suasana sempat hening sebelum terdengar suara tawa dari om nando dan 2orang asing ini.2orang asing ini berdiri dan melepas kemeja dan celana yang mereka kenakan.Hingga menyisakan celana dalam.Wajah mama berubah menjadi ketakutan.”ha..ha…”tawa om nando yang mendorong tubuh mama kearah orang jepang yang langsung menangkap.Mama berada didekapan orang jepang yang membuka kimononya.bless…kimono mama terlepas dan melayang jatuh kelantai.Mama telah bugil tanpa sehelai benangpun.Tangan kanan si jepang mengelus selangkangan mama yang putih bersih dengan bibir vagina yang bewarna merah.
“owww….”desah si bule memandang mama.Om nando keluar membawa tasnya yang berisi uang.Senyuman manis dilemparkan om nando kearah mama yang memandang tajam dirinya.”bajingan kamu…”kata mama yang diiringi dengan tetesan air mata.Si jepang menjilati leher mama dan bagian belakang mama.Sementara itu si bule tampak menciumi bibir mama yang berwarna pink.Ciuman itu begitu panas hingga aku kembali terangsang.Kedua tangan kekar si bule meremas-remas payudara mama yang padat dan kenyal walau sudah agak turun.Si bule terus menciumi bibir mama yang tipis membuatku dan rocy terangsang.Kedua lelaki ini mendudukan mama keatas meja.Mereka saling berbagi.Si bule mendapat jatah menjilati payudara mama sebelah kanan dan si jepang menjilati payudara mama sebelah kiri.Lidah kedua orang asing ini menari-nari menjilati susu mama.Mama hanya bisa mendesah dan menutup rapat-rapat matanya.Si bule meremas dan menggigit puting susu mama.ouchh,…desah mama.Kemudian si jepang asyik memplintir puting susu mama dan tanganya mengelus-ngelus paha mama.Dan 2 jari si jepang menusuk liang kewanitaan mama.”aouhh…shh”desah mama.2 jari itu keluar masuk divagina mama.Si bule semakin ganas menghisapi puting susu mama.Lidahnya naik menjilati leher mama.
Setelah mereka puas,mereka merubah posisi.Si jepang berada berjongkok didepan vagina mama sementara si bule mengacungkan batang zakarnya yang berurat panjang didepan mulut mama.Permainan pun berlanjut.Penis si bule keluar masuk mulut mama.Tangan mama mengelus-ngelus kepala si jepang yang sedang asyik menjilati vagina mama.Terdengar beberapa erangan dari si bule ketika mama menghisap kepala penisnya.ouhh…..aku semakin terangsang.Kulihat sampingku,rocy mengocok-ngocok penisnya yang hari itu sudah menembak 2x sementara aku belum sekalipun.jepang menghisap-hisap bibir vagina mamaku.Lidahnya naik turun menyalurkan rangsangan pada bagian paling intim ini.Tangannya pun ikut bekerja meremas-remas bukit susu mama untuk menambah rangsangan kenikmatan.Karena sudah tak tahan,aku mengocok-ngocok penisku sambil mengikuti permainan mereka.Mama mencabut penis si bule dari mulutnya dan mengocok penis yang semakin panjang itu dengan tangan kanannya.ahh…sh….desah mama.Aku tak melihat kesedihan mama.Yang ku tahu mama pasti sudah terangsang.”akkh…ouch….shhh….”desah mama.Dan cairan deras mengucur dari liang rahim mama keluar dari bibir vagina mama dan membasahi wajah si jepang.
Lalu mereka memposisikan mama miring.Si jepang mengacungkan tongkolnya didepan mulut mama yang langsung diterkam oleh mulut mama.Sementara itu si bule mengarahkan rudalnya kedalam vagina mama.ssluuurppp…penis si bule yang hampir sama dengan penis om nando masuk bersarang diliang rahim mama.plek..plek..suara becek terdengar ketika si bule mulai memompa mama.Mama sempat mendesah ahh…shh….sebelum si jepang menarik kepalanya dan menekan penisnya kedalam mulut mama.Tubuh mama bergoyang ketika 2orang asing ini mencumbunya.Kupercepat kocokan penisku ketika melihat si bule mempercepat pompaanya divagina mama.Payudara mama bergoyang kesana kemari.Dan mama mencabut penis si jepang dari mulutnya dan berteriak akhhhhhhhh……
Mama mencapai puncak orgasmenya.Si bule memejamkan kedua matanya menikmati isapan vagina mama.Si bule mencabut penisnya yang basah dari vagina mama.Dan kemudian si jepang menaruh mama diatas tubuhnya.Lalu mengarahkan alat vitalnya yang putih mengkilat kedalam vagina mama.cek…plek…suara becek kembali memenuhi ruangan itu bersama dengan desahan yang keluar dari mulut suci mama.Sementara itu si bule bersiap untuk memasukan tongkolnya kedalam lubang dubur mama.”aouchh….shh…sakit.. stop…”desah mama ketika kepala penis si bule mendobrak masuk kedalam lubang dubur mama yang tak pernah diisi oleh penis lelaki.Si bule ingin melakukan anal sex dengan mama.Dan mama teriak dan memejamkan matanya ketika duburnya yang sempit berhasil dijebol oleh si bule.”akhh….oghhhh…..shhhhhh…..ahh….”desah mama berulang kali ketika mendapat DOUBLE PENETRATION dari 2 orang asing ini.1 penis divaginanya dan 1 penis dilubang anusnya.Goyangan itu tak terlalu cepat.2orang asing ini terlihat sangat menikmati kenikmatan tubuh ibuku.Tak selang beberapa menit mama orgasme lagi.Si jepang turut mendesah sama seperti mama.Lalu ia mencabut penisnya.Si bule kembali memasukan penisnya kedalam liang kewanitaan mama.
Sedikit desahan keluar ketika si bule mendogie style mama.Lama kelamaan pompaan si bule semakin cepat.Tampak seluruh otot si bule yang kekar.Sementara itu si jepang terlihat mengocok-ngocok sendiri penisnya.Aku semakin tak tahan dan ingin menembakan maniku tapi kucoba mengendalikan diri.Dan pompaan itu begitu cepat.Sampai-sampai kulihat mama memejamkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.akhh….shh…akhhhhhh….mama kembali orgasme untuk kesekian kalinya.Si bule mencabut penisnya dan dengan cepat si jepang menancapkan penisnya divagina mama.Mulut mama diisi dengan penis si bule yang tadi menjebol duburnya dan vagina mama diisi oleh penis si jepang.Hanya beberapa kali pompaan si jepang mencabut penisnya.Begitu juga dengan mama yang mencabut penis si bule dari mulut mama.Tangan kiri mama memegang penis si bule dan tangan kanan mama memegang penis si jepang.Mama mengocok kedua penis itu dengan sangat cepat.Sesekali mama menghisap kepala penis si bule dan si jepang hingga akhirnya.crooot..crooot..si jepang menyemprotkan maninya diwajah mama dan mama langsung mengelap mani itu dengan tanganya lalu menghisapnya.Tak lama kemudia si bule yang langsung menancapkan kepala penisnya di mulut mama.crooot…croot..mani si bule jauh lebih banyak dari si jepang.ahh….desah si bule.Lalu mama terduduk diatas meja dan membersikan mulutnya.Sementara kedua lelaki ini menghembuskan nafas dan terduduk di kursi.Dan akhirnya aku juga menyemprotkan maniku.
Mama bangkit dari duduknya dan memumut kimononya yang terjatuh dilantai.”asyik ya…”kata si bule dengan bahasa indonesia.”ia “jawab mama dengan senyuman.Kemudian dengan camera photo si jepang memfoto si bule yang sedang memeluk dan mencium mama.Tak lama kemudian pintu terbuka dan om nando masuk.Expresi wajah mama berubah ketika kedatangan om nando.”istri-mu begitu cantik dan sedap,boleh aku meminjamnya”kata si bule.”oh dia bukan istriku,dia hanya wanita miskin yang secara tak sengaja kutemukan dan ternyata ia memiliki tubuh yang sedap”kata om nando dengan lancang.”seperti pelacur”sahut si jepang.”oh ya”kata om nando dengan senyuman.Si jepang yang masih bugil membuka tasnya.”oh kita punya sesuatu”kata si jepang yang mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah diisi cairan.”biar fly…ha..ha”kata si jepang.Mamaku yang berdiri didekat bule mencoba berlari namun dengan sigap si bule menarik tanganya.”sini mau kemana..ha..ha”kata si bule memegangi mama.Om nando memegangi tangan mama yang mencoba melakukan perlawanan.”itu sejenis obat morfin yang membuat mama-mu seperti orang teleng…”kata rocy.Dan si jepang menusukan jarum itu ketangan kanan mamaku.”akhh….lepaskan”desah mama ketika jarum itu tertancap ditanganya.Setelah cairan itu masuk ketubuh mama,si bule dan om nando melepaskan mama.Mama berdiri dan mencoba berlari.Baru 1 langkah ia sudah tersungkur dilantai.”hha.aa.hhaaa…hhaaa..”tawa ketiga lelaki ini.

Mainan Membawa Kenikmatan

Jam 18.30 aku dan Linda sudah meluncur di jalan. Ia menunjuk sebuah Mall, maka ke sanalah mobilku kuarahkan. Dari keterangan Linda pula aku tahu nanti mesti menuju ke salah satu sudut cafe terbuka di Mall tersebut. Di sana, menurut Linda pula, kita tinggal menjatuhkan apa saja; bisa sapu tangan, korek api, atau barang belanjaan. Setelah itu akan ada laki-laki yang berlagak mengambilkan barang yang jatuh itu. Kalau kita suka pada laki-laki itu tinggal bilang “OK” tapi kalau tidak suka tinggal bilang “Thanx.”
“Kalau OK, mainan itu akan langsung nguntit kita, hi, hi, hi..,” jelas Linda sambil cekikikan.
Aku pun menyambutnya dengan tertawa dan masih ada perasaan-perasaan tegang.
“Kamu bilang mainan?” tanyaku.
“Ya, kita semua di tempat fitness menyebutnya mainan, mainan pembawa nikmat, hi, hi, hi..,” kata Linda lagi masih ditutup dengan tawa.
Untung lalulintas tak begitu padat hingga tepat jam 19.00 kami sudah tiba di sana. Cafe yang disebut Linda ternyata hanya warung terbuka biasa yang menjual aneka minuman dan makanan ringan. Tampak di sana sejumlah anak muda laki-laki dan perempuan.
“Yang cewek nyari cowok, yang cowok nunggu panggilan cewek,” bisik Linda, dilanjutkan aksinya menjatuhkan saputangan tanpa menghentikan langkah melewati cafe tersebut. Aku pun tak mau ketinggalan menjatuhkan kaca mata gelapku. Betul saja tidak lama kemudian ada dua anak muda menghampiri dan mengembalikan barang-barang tersebut. Aku pandangan si pembawa kacamataku, seperti terkena sihir mulutku otomatis mengatakan “OK,” demikian pula Linda yang mungkin merasa cocok dengan anak yang menghampirinya. Tanpa basa-basi lagi kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.
Setibanya kembali di tempat parkir, dua anak muda itu masing-masing mengenalkan diri.
“Ronny,” kata pasangan Linda sambil mengecup pipi Linda kemudian menjabat tanganku. Linda pun membisikan namanya.
“Alvin,” kata pasanganku sambil mengecup dan menggandeng pinggangku.
“Oh,” hatiku terasa melayang meski hanya digandeng begitu saja.
Kemudian kubisikan pula namaku. Suasana yang lama hilang serasa kembali lagi. Segera pula kurugoh tas kecilku untuk mengambil kunci mobil.
Begitu hendak membuka pintu mobilku, Alvin merebutnya sambil berbisik, “Biar Ronny saja yang nyetir, kita di belakang.”
Aku langsung mengangguk menyetujuinya.
Kami meluncur ke arah utara kota. Baru saja beberapa ratus meter meninggalkan halaman Mall, tangan Alvin sudah mulai beraksi. Ia mengusap-usap leherku, kemudian mendekat dan menciuminya dari samping. Tak ayal aku menggelinjang. Ciuman Alvin menjalar ke kuping, terus melaju, dan akhirnya mendarat di bibirku. Mendapat serangan yang sudah lama kurindukan, kontan kubuka bibirku langsung menyambut juluran lidah Alvin. Kami pun berpagutan cukup lama. Dari sudut mataku kulihat Linda pun merapat, terlihat gerakan tangannya menghampiri celana Ronny. Sejenak tampak Ronny mengangkat badannya, rupanya ia memberi ruang pada Linda untuk membuka resleting celananya dan mengeluarkan kemaluannya.
“Ehmm.. lumayan besar,” demikian terdengar suara Linda, tapi tak kulihat lagi kepalanya karena sudah merunduk tenggelam di pangkuan Ronny yang sedang menyetir. Selanjutnya hanya kudengar suara kecupan dan kuluman mulut Linda yang rupanya sedang melakukan oral di kontol Ronny.
Aku sendiri mulai sibuk, lidah kami saling melilit dalam ciuman yang sangat hot. Alvin mulai meraba-raba pahaku, kemudian naik hingga sampai di bagian “V” celana dalamku. Aku bergeser memberikan ruang bagi tangannya agar bisa tepat di celah belahan memekku. Sementara tanganku pun mulai berani merayap tepat di atas sebentuk benda tegang di balik celananya. Kuelus-elus benda hangat yang berada di balik celana itu, dengan jari telunjuk dan jempol kujelajahi sepanjang batangnya. Aku punya kesimpulan kontol Alvin relatif besar, dari pengalamanku pula aku yakin saat itu belum mengeras sepenuhnya.
“Kalau sudah ngaceng sepenuhnya tentu besar sekali,” begitu pikirku.
Alvin masih mengelus-elus celah memekku dari luar dengan jari tengahnya. Aku yakin celana dalamku jadi basah karenanya. Sementara itu mobilku terus melaju di tengah keramaian kota. Untung seluruh kaca mobilku berlapis pelindung cukup gelap. Kami bisa melihat ke luar tapi orang-orang di luar tak pernah tahu apa yang kami perbuat. Ada juga perasaan aneh ketika melakukan itu semua di tengah keramaian, tapi yang jelas nafsuku menjadi lebih bergelora hingga pagutanku di mulut Alvin kian ganas. Apalagi ketika mobil berhenti di lampu merah, aku malah membayangkan orang-orang di mobil di kiri-kanan kami sedang menyaksikan adegan-adegan hot ini. Begitu pula ketika ada orang lewat menyebrang, ingin rasanya aku ditonton mereka. Ahh.. pendeknya pengalaman baru yang sungguh mengasyikan. Tanganku pun mulailah membuka ikat pinggang celana Alvin, langsung pula menarik resletingnya. Langsung kontolnya meloncat keluar karena ternyata Alvin tak memakai celana dalam.
“Wow, besarnyaa..,” teriakku agak kaget begitu melihat kontol Alvin.
Lantas sambil menggenggam batang kontol pacar baruku itu aku berbisik, “Vin, apa kesukaanmu?”
“Blow job,” jawab Alvin ringkas. Aku terdiam belum mengerti.
“Iseplah..,” kata alvin menjelaskan.
Aku pun senyum dengan menggenggam kontolnya lebih erat lagi, “Jadi blow job itu artinya ngentot pakai mulut?” tanyaku bermanja-manja dan pura-pura bodoh.
Setelah itu tak banyak bicara lagi kujilati bagian kepala kontolnya Alvin. Ini adalah bagian pemanasan yang paling kusuka ketika Amri masih hot-hotnya. Maka ketika kujilati, kuciumi, dan kuemut-emut kepala kontol Alvin, aku melakukannya dengan intens sekali. Alvin pun segera melenguh merasa nikmat, tangannya dengan agak kasar menyingkapkan celana dalamku ke pinggir hingga jarinya kini bisa menyentuh langsung alat kenikmatanku yang sudah lama tak tersentuh laki-laki itu.
“Sluurrpp..,” mulutku maju lebih jauh lagi melahap batang kontol Alvin, sejenak kutahan di sana sambil kurasakan bahwa kontol Alvin ternyata masih tumbuh membesar. Tahu begitu maka aku merangsangnya lebih keras lagi karena ingin segera tahu seberapa besarnya jika sudah ngaceng sepenuhnya.
“Sluurrpp..,” mulutku maju lagi hingga separo kontol Alvin masuk, terasa ada yang berdenyut dan tumbuh mengembang. Kubiarkan kutahan di dalam, dan kian lama terasa mulutku kian penuh hampir tak bisa lagi menampung kebesaran kontolnya. Saat itulah kulepas mulutku, kupandangi benda yang ternyata tampak gagah sekali itu. Seluruh batangnya mengkilat karena basah oleh ludahku, kugenggam di bagian pangkalnya, kogoyang-goyang.. Ohh.. benda yang sangat kurindukan kini ada digenggamanku.
Sekali lagi “Sluurrpp..,” kulahap sekaligus kontolnya.
Kini kuusahakan bisa masuk sedalam mungkin. Ternyata betul-betul sungguh besar, hanya lebih sedikit dari setengahnya sudah menyentuh tenggorokanku. Agak sesak tapi kubiarkan tenggelam di dalam untuk beberapa saat. Sambil kuemut-emut kontolnya, perlahan-lahan kupelorotkan celana Alvin hingga lepas. Seusai itu, Alvin pun berusaha memelorotkan celana dalamku. Di ruang kursi mobil yang sempit, ternyata usaha melepas celana dalam itu menjadi tidak mudah. Masalahnya aku mau melepasnya tanpa mau melepas kuluman mulutku di kontolnya, demikian pula Alvin seperti tak mau kehilangan memekku.
Setelah berjuang keras akhirnya lepas pulalah celana dalamku. Alvin kini dengan merdeka mulai bisa menusukan jarinya yang besar. Ohh.. baru dengan jari itu saja aku sudah merasa melayang, maka kurespon sodokan jarinya dengan memaju-mundurkan pantatku, sementara mulutku pun mulai mengangguk-angguk memberikan gerakan kontol Alvin agar keluar-masuk.
“Ohh.. Tarsih, ohh.. dewiku, sedap sekali sedotanmu.. memekmu pun sungguh masih ketat sekali.. aku pengen segera mengentotnya,” erang Alvin karena nikmat. Aku merasa begitu tersanjung, maka segera aku lepaskan kuluman, naik ke pangkuannya dengan kontol Alvin diusahakan tak lepas dari genggamanku. Kedua kakiku kini ada di atas kursi mobil, dengan posisi jongkok begini kusentuh-sentuhkan kepala kontol Alvin di celah memekku, sesekali disentuhkan pula ke kelentitku yang sudah sangat peka.
Kemudian, “Bless..” sekaligus kutanamkan kontol besar itu dengan tak sabar.
“Ohh.. ahh..,” aku pun mengerang karena kaget sendiri merasakan kontol yang begitu besar melesak masuk. Demikian kerasnya eranganku sehingga membuat linda bangkit dari kegiatannya kemudian melirik ke belakang.
“Gimana, asyik Teh Tarsih?” tanya Linda menggodaku yang sedang nikmat.
“I.. i.. yaa, Linda.. Kontol Alvin gede sekali, asyik sekali,” jawabku sambil mulai menggoyang-goyangkan pinggulku.
Pada saat itu pula sempat kulihat lagi keramaian kota. Dengan posisi sudah mulai sanggama, dalam keadaan kontol pasanganku sudah tertanam di memek laparku, melihat keramaian di luar kian membuat aku terangsang lagi.
Maka kugenjot kontol Alvin lebih hebat lagi, hatiku seolah-olah berteriak kepada orang-orang di jalanan, “Heii.. orang-orang lihatlah.. lihatlah aku lagi ngentot dengan nikmat sekali.. ngentot kontol gede.. hhmmhh.. ahh.”
Gerakan pantatku turun-naik di atas kontol Alvin kian cepat, Alvin pun sesekali membalasnya dengan mengangkat pantatnya hingga kontolnya tertanam sepenuhnya di memekku. Rasa dahagaku yang sudah cukup lama tak merasakan kontol, rupanya membuat nafsuku jadi sangat berlebihan, sehingga aku tak bisa mengontrol dan membuat persetubuhan berlangsung begitu cepat.
“Ohh.. Vin, Alvin.. entot terus, entot memekku yang lapar ini.. entot, jangan berhenti.. ohh teruss.. aku hampir sampai di puncak.. teruss.. ohh.. ohh.. ohh.. ahh!” Sebuah erangan panjang menandakan aku sudah mencapai orgasme.
Sementara aku tahu bahwa Alvin masih segar bugar. Karena itu kuelus kepalanya untuk menghibur, sementara Alvin membenamkan wajahnya di celah buah dadaku. Dengan kontol yang masih tertanam di memekku, dijilatinya seluruh celah dari lembah payudaraku, kemudian naik ke puting susu sebelah kiri, melintas lagi di celah lembahnya dan pindah ke puting susu sebelah kanan, sesekali mendarat agak lama di salah satu puting susuku yang sejak tadi sudah begitu keras. Di isap-isapnya di situ, adakalanya digigit-gigit kecil sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nimkat.
Sampai pada adegan ini sudah terpikir pula untuk membalas kenikmatan yang telah diberikan oleh Alvin, tapi sementara itu pula aku berkesempatan melihat ke arah luar jendela mobil untuk melihat ke arah mana kira-kira mobil ini melaju. Dengan sekilas aku segera tahu mobil sedang melaju ke rah utara, maka aku tanya ke Ronny atau pun Linda yang juga sedang asyik di depan, “Heh, sedang menuju ke mana kita ini?”
Yang menjawab ternyata Linda dengan tanpa mau melepaskan emutan mulutnya di kontol Ronny sehingga suaranya seperti suara orang yang tersumpal, “Mmpphhff.. ki.. fftaa.. kee.. ff ‘L” saa.. phhjaa.. di sana.. phhpp.. ada hotel mmff.. hotel.. yang asyikk.. mmff.. slrupp.”
Aku sebetulnya setuju-setuju saja, tapi tiba-tiba saja muncul pikiran lain sehingga aku protes, “Nggak, deh, oohh.. eyy..,” kalimatku terhenti karena kaget dan geli oleh gigitan Alvin di puting susuku, “Balik ke rumahku saja..,” lanjutku sambil tetap mengelus-elus kepala Alvin yang terasa pula kontolnya masih berusaha menusuk keluar-masuk di memekku.
Mendengar protesku Linda yang tenggelam di antara selangkangan Ronny tiba-tiba bangkit, “Bener nih?”
“Serius, kita balik ke rumahku saja..” jawabku tegas.
Ronny dan Linda tampak sejenak saling pandang, tapi kemudian sepakat tak berani melawan permintaanku. Maka di satu persimpangan Ronny memutar balik haluan, kemudian meluncur menuju ke rumahku yang sedikit agak di bagian selatan pusat kota.
Setelah tahu kendaraan yang kami tunggangi menuju arah balik, maka aku pun segera ingat kepada tugas ingin membalas kenikmatan yang telah diberikan Alvin.
“Kamu.. belum keluar, ya, sayang.. kontolmu masih ngaceng keras.. biar aku bikin keluar, yaa..,” kataku sambil mengangkat kepala Alvin kemudian memagut bibir, dan kami kembali berciuman cukup lama.
Tanpa melepaskan bibir dan lidah kami yang saling berjalin, aku mengangkat tubuhku pelan-pelan sehingga sedikit demi sedikit kontol Alvin keluar dari jepitan memekku. Menjelang kepala kontolnya lepas cepat-cepat tangan kiriku menuju ke bawah untuk menyambutnya dan menggenggamnya. Terasa sekali kontol Alvin begitu licin karena basah oleh cairan orgasme yang tadi telah keluar dari memekku.
Sambil sedikit kukocok-kocok kontol yang licin itu, aku berbisik pada Alvin, “Kamu pernah di ‘tits-fucking,’ dientot pake payudara, sayangg.. Sini aku kasih tits-fucking sambil sesekali aku sedot kontolmu dengan mulutku yang haus ini, yaa..?”.
“Belum.. pernah, ohh.. asyik sekali.. sejak semula aku sudah tertarik sama susu gedenya Tante Tarsih.. asyik sekali kayaknya dijepit di sana.. ayo, dong, Tante.. Al sudah tak tahan nih..,” jawab Alvin kelihatan sudah tak sabar.
“OK sayang.. sini taro kontolmu di antara susu Tante..,” kataku sambil menyangga kedua susuku dengan kedua tanganku.
Posisiku agak sedikit turun dari jok mobil, sementara Alvin sedikit naik dengan mengarahkan kontolnya di antara celah dua bukit payudaraku. Begitu tiba di sana langsung aku sambut dan aku tekan payudaraku hingga menjepit kontol Alvin.
“Ahh.. uuhh.. Tantee..,” lenguh Alvin kenikmatan sambil mulai mengocok-kocokan kontolnya di sana.
Kontolnya yang memang lumayang panjang dan gemuk, sesekali bagian kepalanya menyentuh daguku. Dengan begitu memudahkan aku untuk bisa menyambutnya dengan mulutku.
Dengan sedikit merunduk dengan mulut telah siap terbuka, maka kontol Alvin pun sesekali masuk di mulutku. Setelah beberapa kocokan, Alvin menghentikan gerakannya. Aku tahu Alvin minta kontolnya diisap, maka segera pula aku merunduk agak jauh lagi sehingga sebagian kontolnya bisa masuk ke mulutku. Kutahan dan kubiarkan terbenam di sana untuk beberapa saat, ketika di dalam kuemut-emut mulutku sambil menggerak-gerakan lidahku menyentuh-sentuh batang dan kepala kontol Alvin. Ohh.. luar biasa sekali, aku bisa merasakan langsung bekas cairanku sendiri di kontol Alvin.
Adegan dan wanginya cairan memekku sendiri ini sungguh membuatku terangsang kembali. Nafsuku untuk bersetubuh sudah kembali pulih, ingin sesungguhnya aku segera naik kembali menunggangi kontolnya Alvin. Tapi kuputuskan untuk meneruskan memberikan tits-fucking sambil melomoh-lomoh kontolnya dan sesekali kusedot-sedot, kuisap-isap.
Alvin sendiri kelihatan sekali merasa nikmat dan bahagia dengan pelayanan itu, “Oohh.. emmhh.. nikmat sekali rasanyaa.. Tantee.. teruss.. jepit terus dengan susu tante yang gede itu.. ohh.. ya, sedott, jangan berhenti.. tantee.. sedapp, wah sudah kuduga tante ini hebat.. aku mau deh setiap hari ngentot sama Tante Tarsih,” kicaunya.
Mendapat pujian itu ditambah birahiku sendiri, maka aku kian bersemangat menjepitkan susuku dan nyedot kontolnya sampai pipiku kempot saking kuatnya. Kurasakan gerakan maju-mundurnya Alvin pun kian deras, kontolnya terasa sudah sangat tegang sekali, aku tahu itu adalah tanda-tanda Alvin sudah kian dekat ke puncak kenikmatannya. Tak ayal aku pun mengimbangi gerakan-gerakan pantatnya dengan semakin bersemangat.
Hingga tak lama kemudian, “Oohh tantee.. teruuss.. aku sudah hampir.. sudah dekatt.. teruss.. ohh.. uhh.. mmhh.. ohh.. uhh.. mmhh.., aku tak tahan lagii.. keluarin di mana tantee..,” erangan dan kicauan Alvin bercampur aduk.
“Keluarin di mulutku saja.. sayangg.. ohh.. mari penuhi mulut tante yang lapar ini dengan spermamu yang hangat.. ayo keluarin.. sayangg,” jawabku ingin segera melihat pasanganku mencapai puncak kebahagiaannya.
“I.. i.. ini dia tantee.. aku keluarr.. huuhh.. ahh..,” teriak Alvin, bersamaan dengan itu kurasakan kontolnya menjadi super tegang diiringin meletupnya semburan air mani dari kontolnya hingga membentur pangkal tenggorokanku.
Begitu banyak air mani yang ia keluarkan hingga mulutku tak sanggup menampungnya. Sebagian langsung kutelan, sebagian lagi kubiarkan keluar di atas kedua payudaraku sambil tak henti-hentinya aku teruskan mengocok kontolnya. Luar biasa sekali, ketika kukocok di luar pun sperma Alvin masih meluap demikian banyak sehingga membanjiri seluruh permukaan buah dadaku, kemudian meleleh turun membasahi sebagian perutku.
“Mmhhmmffhh.. Al, sayangku.. luar biasa banyak sekali sampai banjir..,” kataku sambil menyusut air maninya yang turun ke perut untuk kemudian kujilati lewat tanganku hingga bersih. Begitu pula yang membasahi buahdada-ku, aku coba untuk menyendoknya dengan tangan kemudian aku lahap pula, lantas dengan sengaja kuperlihatkan pada Alvin ketika menjilat jari-jariku yang masih bersisa air maninya, berulang-ulang kujilat hingga bersih. Tak lama kemudian terdengar kehebohan di kursi depan, Linda setengah berteriak-teriak sambil mengocok kontol Ronny yang masih tetap di belakang kemudi.
“Ayoo.. Ronny-ku, keluarkan.. tuntaskan sayang.. aku nggak mau kalah sama Teh Tarsih.. aku pun ingin sperma hangatmu.. ayo keluarkan.”
“I.. i.. iya tante Linda, kocok terus, saya sudah hampir, kocok yang keras.. ehh.. sambil diemut lagi.. tante..,” pinta Ronny.
Kemudi mobil sedikit agak bergoyang, aku dan Alvin saling berpandangan lantas tersenyum. Kontol Alvin yang sudah melembek masih di dalam elusan tanganku, Alvin pun dengan mesra tak lepas-lepasnya mengelus bibir memekku sambil mengecup-kecup puting payudaraku. Rupanya dia betul-betul terpesona oleh kebesaran buah dadaku.
Lagi-lagi suara Ronny terdengar, “Yaa.. yaa.. ahh.. uhh.. ya tante, hampir tante.. aku mau keluar nihh..”
“Ya, ya, ya, keluarkan saja di mulutku,” kata Linda yang rupanya tak mau kalah dengan aku.
“Emmhh.. ahh.. tantee.. aku keluarr..,” erangan panjang terlepas dari mulut Ronny.
Tapi bisa kupastikan Linda sedang sibuk dengan limpahan sperma pasangannya. Tak ayal, mobilku pun jadi penuh oleh aroma sex. Aku sendiri, anehnya, merasa begitu bahagia dan sangat menikmati permainan yang nikmat ini. Tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan gerbang rumahku.
Linda tiba-tiba bangkit dari kursi depan lantas bertanya kepadaku, “Eh, Teh Tarsih.. ini betul, serius.. gimana kalau suamimu ada di rumah?”
“Serius, dan memang aku ingin dia tahu,” jawabku tegas.
“Yang bener?” tanya Linda lagi masih ragu.
“Bener, ayo Ronny masuk saja jangan ragu-ragu,” kataku.
“Baik, tante,” jawab Ronny sambil memasukan mobil.
“Ya, nanti kita teruskan lagi permainannya, ya!” sambungku dengan suara menggoda.
Mobil pun masuklah ke halaman rumah, langsung masuk garasi dan kami segera turun dengan pakaian masing-masing yang masih berantakan. Pakaianku basah di bagian depan karena terkena limpahan spermanya Alvin.

Lesbian Diperkosa Lesbi


Mungkin bagi masyarakat tidak asing lagi dengan kata LESBI. Ya banyak wanita kini yang menyimpang. Namaku Lina ( nama samaran ) , kuliah smster awal di salah satu perguruan tinggi Jakarta. aku tidak pernah berfikir akan merasakan yang namanya diperkosa, walaupun sebelumnya aku sering berhubungan seks dengan mantan kekasihku.
Suatu hari di kampus baru, aku bergaul dengan beberapa senior yang terbilang cukup berduit. Mereka bisa membeli apapun untuk menyenangkan hati mereka.
“ Lin, besok kita jadi ya ke anyer, sama Cika, asti ma gw “ , ujar vita . aku diterima di pergaulan mereka mungkin karena penampilanku. Aku suka memamerkan payudara 36 b, dengan bra yang sempit seakan payudaraku akan tumpah. Kulit putihku yang terawatt dan wajahku yang manis seperti orang Belanda kata mereka.

“ pasti, kita ber 4 aja ya ta ? “, Vita menggangguk sambil memakan buah ditangannya.
Keesokkannya aku bersiap siap, menunggu cika menjemputku. Aku membawa 2 pasang bikini dan banyak tank top. Aku suka menjadi pusat perhatian. Tak lama Cika menjemputku dan kita sampai di Anyer. Cika menyewa villa tepat di depan pantai. Aku suka pantai, membuatku sexy saat menggunakan bikini.

“ Yuk Foto2.. “ , Cika berteriak. Serentak kami keluar menggunakan bikini. Bikini punya paling minim dan sexy, entah mengapa, aku selama ini tidak pernah membicarakan mengenai percintaan dengan mereka dan sebaliknya pun mereka begitu.
“ ahh ,, cape foto foto,, eh gw bawa ini nih “ , Vita mengeluarkan pemutar DVD portable. Tanpa mandi kami langsung duduk memilih DVD untuk ditonton.

“ yeee,, Vit, ini bokep semua loe bawa ! “ , Ujar Asti.
“ waduh salah bawa folder donk gw !! “ , teriak Vita. Kami langsung terkejut.
Tiba tiba cika .. “ whaa ini nih, Women Lick on me, keren nih! Ehh challenge yuk.. gw bawa ganja.. nahh gw bawa sihh 6 tapi.. ini kan filmnya durasinya pendek2.. setiap 15 menit nih.. yang tahan nonton ga horny gw kasi 1 linting “ ,

“ OKEE!!! “ , Vita berteriak. Dan langsung menyetel DVD itu. Aku hanya diam dan terpaku melihat adegan dalam DVD itu. Tiba tiba tangan Cika merogoh bikini bawahku dan menusuk dan ngentot vagina ku. Aku hanya diam
“ WAH BASAH!! KALAHH DIAA!! Hahahaha “ , aku tersentak malu.
“ ihh apaan sih.. ah curangg nihh “ , Cika mengecek satu2 celana dalam Vita dan Asti.

“ Yaa asti juga basah.. kalah de.. YAKK PEMENANGGNYAA JREENGG! VItaaa “ ,
“ hahhahaha… ASik… sini gw isep.. eh gw bagi2 de.. “ , Cika berdiri dan memberi vita selinting ganja. Tak lama kami bergantian. Satu linting untuk rame rame memang tidak terasa, tapi bagiku entah seperti lemas dan ingin meletakkan badan.

“ Mmhhhhpppphhh…. “ , Lidahku sudah bertautan dengan Cika. Cika menjilat lidahku, dagu sampai leherku dengan buasnya. Aku hanya tertegun bingung. Merasakan nikmat campur aneh dalam diriku.
“ Cik, jangan donk… “ , aku mendorong cika.
“ ah susah banget nih jinaknya “ , Ujar cika sambil mengikatku di ranjang. Begitu tersadar,, aku sudah terikat di ranjang
“ HEH!! NGAPAIN GW DI IKET2 ?? “ , Teriakku.

“ Biar loe rasain.. nikmatnya jilatan gw “ , Asti menarik bikiniku. Mereka sudah telanjang bulat. Di sebelahku Cika dan Vita sedang menikmati vagina masing.. Cika memasukkan jarinya ke dalam vagina Vita dan Sebaliknya.
“ mmhh… yess enakk yaa sayang “ , ujar Cika sambil menusuk vagina. Semua terlihat jelas di depan mataku.

“ nah sekarang nikmatin ya sayang “ , Asti menjilat buah dadaku. Aku merasakan getaran berbeda dari lidah asti. Nikmat campur takut.
Aku menahan erangan dalam mulutku. Rasanya sesak.
Lidah asti berputar putar di putingku, menggigit pelan dan mencubit putingku dengan jemarinya. Aku merasa tangan Asti turun ke perutku dan menekannya dengan kencang. Lalu dia setngah berdiri di atasku
“ enak kan ?? “ , aku hanya diam. Asti berdiri di atasku lalu bergerak perlahan awalnya aku bingung apa yang mau dia lakukan sampai aku merasakan vaginanya menggesek vaginaku.

“ mmmhh… hhhh… duuh as.. pls.. jng… mmmmhhh “ , asti bergerak makin kencang. Klirotisku terasa tergesek dengan cepat. Sontak Asti menoleh ketika cika berada dibelakangnya dan meremas buah dadanya. Sedangkan aku tersiksa oleh nikmatnya gesekan di klirotiskua.
“ hehehe.. kita ospek yuukk “ , Cika dan asti berdiri. Vita langsung tiduran menghadap ke arah vaginaku
“ Vit.. jangan… “ , aku merengek. Entah ada gejolak batin yang lain saat tangan Vita membuka bibir vaginaku
“ Bersih,, wangi.. sluurrrpppptttt “ , lidah nya menjilat bibir vaginaku. Aku tersentak. Pinggangku menahan rasa geli. Tnganku yang terlikat membuat ini makin menyiksa.

Vita menggigit gigit klirotisku, memasukkan lidahnya dan menjilat seluruuh vaginaku. Aku hanya menahan mengerang dan menikmatinya.
“SHHHH… ahhhh.. mmmmm … ENak vit “ , tanpa sengaja aku berkata enak. Setiap jilatan Vita di dalam vaginaku membuatku melayang. Lidahnya yang kecil berputar putar dalam lubang vaginaku.
“ banjirr nih sayang,, aku masukkin ya ? “, aku bingung. Apa yang mau dimasukkin . .

“ HAH? “ , tiba tiba terasa benda tumpul dingin menghampiri bibir vaginaku. Aku mengintip ke bawah. Ternyata didlo..
“ AHHHHH… … mmmhh… please vit.. mmhhhh … hhhhh… “ , aku mengerang. Nikmat sekali, ukuran penis dan getaran yang dihasilakn sangat pas. Mengisi rongga vaginaku. Sampai terasa penuh dan panas.
Tangan vita terampil sekali memainkan vaginaku. Tubuhku menggeliat, aku tak bisa menahan ini.

Tiba tiba cika datang dan mendudukki mulutku
“ JILAT! “ , teriak Cika. Vagina cika tepat di atas mulutku. Aku hanya diam
PLAAKK!!
“ GW BILANG JILAT PEREK!!! “ , Cika menamparku.. aku merasakan sakit dan nikmat yang bersamaan. Vaginaku masih di penuhi oleh Dildo .
“ Mmhhh.. pinter gitu.. jilat terus Lin! Klo ga.. gw obok2 meki loe pake botol! “ , aku agak takut mendenger perkataan Cika. Aku menjilat vagina CIka. Memasukkan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan menggigit klirotisnya. Ternyata enak sekali menikmati vagina.
“ Shhh…. “ , desahku dan Cika terdengar berbarengan. Aku tak melihat Asti.

“ CEPETTT LIN … SHHH.. gw mauu… AKKHHH “ , wajahku dipenuhi cairan lengket yang menetes dari vagina Cika
“ hebat ya loe, bikin gw orgasme, gw bales “ , Vita keluar dan meninggalkan dildo itu bergetar di dalam vaginaku. Aku hanya menggeliat hebat. Cika tertawa melihatku . aku melihat cika turun dari kasur dan menuju kopernya. Dia mengambil sex toy, bebentuk penis dilengkapi dengan sabuk. Dia menggunakan itu. Sekarang Nampak Cika memiliki penis

“ AW… SHhhhh… akhhh sakit cik.. shhhh “ , Cika menarik dildonya dan memasukkan penis yang dia gunakan dengan hentakan dashyat. Cika menggoyang pinggulnya sambilmencubit putingku
“ Shhh… terus ciik.. “,tak sampai disitu siksaan bagiku hari itu. Cika mengeluarkan sex toy juga untuk menjepit klirrotisku. Aku mengerang..
Sakit dan nikmat yang aneh
“ CIKK SAKIT… SUmpah lepasin… akhh… mmhhh… shitt… cik.. ampunn “ , Cika tidak perduli, 15 menit setelah siksaan itu
“ AHHH… CIkk gw…Ahhhh,,, mmmpppph “ , Cika memasukkan penihs itu dalam dalam dan menciumku. Melumat bibirku dengan ganasnya. Dia membuat vaginaku kaku, menggerakkan penis dengan cara tidak wajar. Tapi kenikmatan tersendiri mulai muncul. Cika berdiri dan melepas ikatanku.

Aku terduduk diam.
“ napa loe ? “ Tanya cika
“ Engga… gw ngerasa aneh “ .
“ yaa pecun sih pecun aja.. mau kata di jilat cewe ato cowo sama2 enak goblok , dah mulai sekarang loe tau kan kegiatan rutinitas kita ? loe mau pacaran sama cowo ? boleh. Asalh gw boleh absen dari party sex lesbian kita “ , Ujar Cika . aku menggangguk
“ sana mandi loe, tar malem… kita party lagi,. “

TAMAT

Pesta Sex Dengan 3 Gadis Dusun


Cenit bersandar di dinding, gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Setengah busana atasnya masih rapi tapi seluruh rok dan celananya sudah terbuka. Menampakkan kedua paha yang putih mulus dan montok. Sementara tumpukan daging putih kemerahan menyembul di sela rambut-rambut hitam yang nampak baru dicukur.
Sedikit tengadah dan dengan tatapan mata sendu ia berujar lirih…
“Masukkanlah, Kak! Aku juga ingin menikmatinya….”
Aku hanya terdiam.. kami sama-sama sudah membuka busana bagian bawah, beberapa menit kemudian kami bergelut di pojok ruangan itu. Dengan penuh nafsu ku tekankan tubuhku ke tubuh gadis itu. Ia membalas dengan merengkuh leherku dan menciuminya penuh nafsu.
Tubuhnya terasa panas dan membara oleh gairah, bertubi-tubi kuciumi leher, pundak dan buah dadanya yang kenyal dan besar itu. Ia hanya melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Setiap remasan dan kuluman… diiringi dengan erangan penuh kenikmatan.

Tanpa kusuruh ia membuka sebagian kancing bajunya. Menampakkan onggokan buah dada yang membulat dan putih. Tanpa membuka tali beha ia mengeluarkan buah dadanya itu dan mengasongkannya ke mulutku.
Dengan rakus kukulum buah dada besar Cenit sepenuh mulutku. Ia mengerang antara sakit dan enak. Nafasku pum semakin tersendat, hidungku beberapa kali terbenam ke bulatan kenyal dan hangat itu.
Puncak dadanya basah oleh air liurku yang meluap karena nafsu. Licin dan agak susah meraih puting susunya yang mungil kemerahan itu. Jelas sekali kulihat proses peregangannya. Semula puting susu itu terbenam, namun dalam sekejap saja dia keluar menonjol dan mengeras.
Cenit tahu susah mengulumnya tanpa memegang karena aku mencengkram erat leher dan pinggang gadis itu. Tanpa menunggu waktu ia memegangi buah dadanya dan mengarahkan putingnya ke mulutku.
Aku pun mengulumnya seperti bayi yang kehausan. Mengulum dan menyedot sampai terdengar berbunyi mendecap-decap. Kulihat gadis itu, dalam sayu matanya merasakan kenikmatan, bibirnya tersungging senyuman dan tawa kecil. ‘Gigit sedikit, Kak.’ pintanya padaku.
Aku menuruti kemauannya, dengan gigiku kugigit sedikit puting susunya. ‘Aih….’ Jeritnya lirih sambil menggigit bibir. Barangkali ia tengah merasakan sensasi rangsangan nikmat luar biasa di bagian itu. Kurasakan tubuhnya melunglai menahan nikmat.
Kemudian tubuh kami saling mendekap semakin rapat. Gairah dan rangsangan nikmat menjalar dan memompa alirah darah semakin kencang. Secara naluriah aku menyelusuri tubuh sintal Cenit.
Mulai dari leher, terus ke punggung, meremas daging hangat di pinggul… terus ke bagian bawah. Akhirnya menyelip di antara paha. Gadis itu membuka pahanya sedikit, mengizinkan tanganku menggerayangi daerah itu.
Dalam pelukan erat, tanganku mencoba masuk… ehm.. bagian itu terasa hangat dan basah. Cenit menggeser pantatnya sedikit. Kedua matanya memejam sembari menggigit bibir , desah-desah halus keluar tak tertahankan. Detak jantungku semakin kencang ketika kubayangkakn apa yang terjadi di’sana’.
Gadisku menggelinjang, nafasnya sesekali tertahan, sesekali ia seperti menerawang, apa yang dia harapkan? Aku tahu, dia menginginkan itu, dia mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, agar bagian itu lebih tersentuh oleh jemariku.
Dengan penuh pengertian aku pun turun… dari leher… buah dada.. wajahku terseret ke bawah, menikmati setiap lekuk liku tubuhnya yang hangat. Setiap sentuhan dan gesekan menimbulkan rintihan lirih dari mulutnya. Wajahnya menengadah, matanya setengah terpejam, bibir agak terbuka, dan sedikit air liur menetes dari salah satu sudutnya.

“Teruskan, kak… jangan hentikan..!” pintanya. “Puaskan aku….?” katanya lagi tanpa rasa sungkan. Yah, tak ada rahasia di antara kami. Apa yang dia inginkan untuk memuaskan hasratnya, pasti dia minta, kapan saja kami bertemu. Begitu pula aku… kalau lagi pingin, dia pasti kasih.
Perlahan aku menyusuri tubuhnya ke bagian bawah. Sekarang aku sudah di atas perutnya yang mulus. Aku bermain-main sebentar di sana. seluruh tubuh Cenit memang sangat menggairahkan. Tidak ada lekuk tubuhnya yang tidak indah. Aku sangat menikmati semuanya.
Tiba-tiba Cenit memegang kepalaku, meremas sedikit rambutku dan mendorong kepalaku ke bawah. “Ayo, Kak, udah gak tahan nih..! Jangan di situ aja dong….Aih..” Aku menurut…. Dulu aku bilang aku ingin merasakan dan menjilati kemaluannya, dia bilang hal itu menjijikkan. Dalam keadaan terangsang dia sangat menginginkanya.
Sesampai di bagian itu… aku terpana menyaksikan pemandangan indah terbentang tepat di depan mataku. Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di celah-celahnya …

Bagian itu, bibir kemaluan Cenit yang merah dan basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan kedua jari telunjuk ku buka celah itu lebih lebar… Klentitnya menyembul… nampak berkedut karena rangsangan nikmat tidak terkira.
Berkali-kali ia berkedut… setiap denyutan dibarengi dengan nafas dan rintih tertahan gadis itu. Aku memandang ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya semakin mengeras. Nafasnya terengah-engah, buah dada Cenit yang putih itu nampak naik turun dengan cepat. Kulihat lagi kemaluan gadisku itu… semakin merah dan merekah. Kubuka lagi dengan dua telunjukku… cairahn kental pun mengalir deras. Meluap dan merembes sampai ke sela paha, persis seperti orang yang sedang ngiler.
Cairan itu terus mengalir perlahan… sampai ke arah anus. Kemudian perlahan berkumpul dan akhirnya menitik ke lantai. Semakin lama semakin banyak titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar itu.

Terasa ia merenggut rambutku… dan menekankan kepalaku ke arah vaginanya yang sedang terangsang itu. Aku pun semakin bernafsu…. Dengan penuh semangat aku pun mulai mengulum dan menjilati seluruh sudut kemaluan Cenit…
“Ahh…. Ahhhh… nikmat sekali, Kak!” Cenit merintih, tubuhnya menegang, cengkramannya di kepalaku semakin kuat. Pahanya mengempot menekan ke arah mukaku, sementara kemaluannya semakin merah dan penuh dengan lendir yang sangat licin.
Aku pun semakin dalam menusuk-nusukkan lidahku ke liang senggamanya. Beberapa kali klentitnya tersentuh oleh ujung gigiku, setiap sentuhan memberi pengaruh yang hebat. Gadis itu melolong menahan nikmat… aku terus menyelusuri bagian terdalam vaginanya. Oh… hangat dan sangat-sangat basah. Tak bisa kubayangkan kenikmatan apa yang dirasakannya saat ini. barangkali sama nikmatnya dengan rangsangan yang kuperoleh dari kemaluanku yang juga sudah mengeras sedari tadi.
Rasanya sangat nikmat dan tergelitik terutama di bagian pangkal… rasanya ingin aku melepaskan nikmat di saat itu juga. Tapi aku harus menyelesaikan permainan awal ini dulu, gadis ini minta untuk segera di tuntaskan.
Semakin aku memainkan kemaluannya, semakin ia mengempot dan menekankan kepalaku ke arahnya. Sesekali aku menengadah menatap wajahnya yang merah. Tampak ia menghapus air liurnya yang mengucur dengan lidahnya yang merah itu.
Tiba-tiba ia tertawa mengikik… seperti ada yang lucu. Ia mengusap wajahku yang bergelimang cairan vaginanya. Sambil memandangku penuh pengertian. “Lagi, Kak” pintanya.

Aku mengulangi lagi kegiatan itu, ia pun kembali merintih-rintih menahan rangsangan hebat itu di kemaluannya. Beberapa kali klentit itu kusentuh dengan ujung gigi….
Tiba saatnya, dia sudah sampai mendekati puncak. Nafas semakin memburu dan tubuhnya menegang hebat beberapa kali. Tanpa sungkan lagi, ia mengeluarkan lolongan penuh kenikmatan ketika rasa enak itu tiba…

“Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya lepas. “Enak sekali…”
Pantatnya mengempot ke depan setiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… dan setiap denyutan diiringi dengan keluarnya cairan yang lebih banyak lagi. Beberapa cairan itu bagaikan menyembur dari liang senggamanya, aku mundur sebentar, melihat bagaimana bentuknya vagina yang sedang mengalami orgasme.
Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan pun membanjir sampai ke kedua pahanya….. mengalir dengan banyaknya sampai ke mata kaki… Aku pun tidak tahan melihat keadaan itu, cepat aku berdiri… mengasongkan kemaluanku yang sudah tegang itu ke arahnya.

Ia memelukku, terasa tubuhnya bersimbah peluh, wajahnya yang memerah karena baru melepas nikmat itu disusupkannya ke leherku. Memelukku semakin kuat…
“Puaskanlah dirimu, Kak!”
Aku pun mendekap tubuh sintal itu semakin erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluanku. Terasa semakin menegang dan mengeras…. Tapi aku ingin merasakan sensasi yang lain.
Kuturunkan kepala gadis itu ke bagian itu. Ia menurut, perlahan ia menyusuri tubuhku dari dada terus turun ke bawah. Seperti yang kulakukan tadi, mulutnya menciumi perutku dan terus turun… sesampai di bagian itu ia memandangi penis yang selama ini selalu dia senangi.
Ia menengadah.. memandangku dengan senyuman nakal…. “Besar sekali punyamu, Kak! Ini untukku untuk selamanya,” katanya sambil mengelus dan mulai meremas pangkalnya. Aku terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluanku dengan penuh cinta.
“Nikmatilah, Kak! Aku ingin kamu menikmati dan merasakan kenikmatan seperti yang aku rasakan, kamu milikku, tidak boleh untuk orang lain….” Aku mengangguk sambil tersenyum, perempuan kalau sudah cinta dan ingin pasti mau melakukan apa saja.
Perlahan ia mulai mengocok pengkal kemaluanku… sesekali ia mengecup bagian kepalanya yang seperti topi baja itu. Lembut dan penuh kasih sayang. Beberapa kali pula ia menempelkannya di pipi sambil matanya terpejam.

“Ohh.. inilah yang aku impikan selama ini. Kepunyaanku milik kekasihku yang perkasa…”
Kemudian ia meningkatkan kocokannya, kedua jemari tangan menggenggam dan meremas-remas menimbulkan rasa geli luar biasa. Kemaluanku semakin menegang menahan nikmat.. keras dan enak.
Gadis itu sangat lihai mempermainkan jemarinya, seolah dia turut merasakan apa yang kurasakan. Sambil terus jongkok dan menciumi pangkal kemaluanku jemarinya terus juga digesekkannya.
Akhirny aku pun tak tahan lagi… aku merenggut rambut di kepalanya, tubuhku pun menegang. Aku mendorong pantatku ke depan, pahaku mengejang menahan sesuatu yang bakal kukeluarkan.
“Cenit…” kataku sambil mencengkram rambutnya. Ia menatapku, wajahnya tepat di ujung kemaluanku yang sedang dicengkeramnya. Gadis itu tersenyum kecil…. Dia senang menatapku yang sedang dalam puncak nikmat.
Maka, sambil setengah terpejam, aku pun mengeluarkan segalanya, kemaluanku meledak dalam genggaman tangan Cenit, menyemburkan air manikyang sangat banyak, mengenai seluruh muka gadis itu. Sebagian ada yang menyembur dan kena ke rambutnya. Kelopak mata gadis itu berkedip menahan serangan air mani yang mendarat di wajahnya…
“Hhhh…hhhh.hh,” perlahan nafasku mulai teratur… puncak itu sudah sampai, nikmat tak terlukiskan kata-kata.
Cenit bangkit berdiri dan menuju pojok ruangan. Paha dan pantat mulusnya nampak gemulai ketika ia melangkah. Gadis itu mengambil baju, mengusapkannya di wajah yang penuh cairan mani. Menoleh ke arahku sambil tersenyum, kemudian berjalan ke arahku. Merentangkan kedua tangan, memelukku dan menempelkan pipinya di pipiku.
“Enak ya, Kak”
Aku mengangguk, memeluk tubuh yang masih bersimbah peluh itu. Memandang matanya lekat-lekat. Ia membalas tatapanku, “Aku sangat mencintaimu, Kak. Kaulah milikku dan milikilah aku selamanya…”
Entah berapa lama kami berpelukan sambil berdiri.
Ketika angin berdesir melalui kisi-kisi jendela, terasa semuanya sudah mengendur. Jiwa dan raga sudah terpuaskan. Sekarang waktunya merapikan pakaian, duduk mengobrol di ruang tamu. Sebentar lagi teman-teman kost kekasihku akan pulang. Kami akan mengobrol di ruang tamu, bercanda, seperti tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.
Tiba-tiba gadis itu berdiri seperti tersentak kaget. Ia memandangku sambil tersenyum kecil. Aku tak mengerti ketika ia menunjuk dengan sudut matanya ke arah lantai. Ha ha ha… hampir lupa, cairan itu masih berserak di lantai. Buru-buru ia pergi ke belakang dan kembali dengan secarik kain. Perlahan dia lap lendir-lendir itu dengan kain tadi.
“Ini punyaku…” katanya sambil menunjuk setitik cairan. “Dan ini punyamu, Kak!” hehe aku tersenyum. “Dari mana kamu membedakan keduanya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok.
Seraya bangkit dan tertawa… “Punya perempuan dan laki-laki jelas beda. Punyaku lebih bening…”
“Tapi punyaku lebih enak kan?” kataku bercanda.
“Iya dong sayang…. ” katanya seraya menghampiriku dan mengusap wajahku penuh kasih dan sayang. “lain kali kita masukin ya . Kak. Aku ingin lebih menikmatinya..” bisik gadis itu, “Aku ikhlas demi Kakak…” bisiknya lagi di telingaku. Ia melingkarkan tangannya di leherku, aku pun memeluk tubuh sintal dan bermandi peluh itu lebih erat.
Malam belum begitu larut ketika aku dan Liani sedang asyik bercinta di ruang tamu rumah kostnya. Tubuh montok gadis itu terbaring pasrah di atas dipan sederhana yang terletak di salah satu sudut ruangan. Sedari tadi punyaku keluar masuk menyelusuri seluruh lipatan kemaluan gadis itu.
Berkali-kali gadis itu menggeram menahan rasa. Lipatan basah dan hangat itu terasa sesekali menyempit. Dia sungguh menikmatinya gesekan-gesekan itu, aku juga. Yang hebatnya, gadis satu ini sepertinya tidak memerlukan foreplay. Kami langsung melakukannya begitu saja. Cukup dengan tatapan mata, kami sudah tahu apa yang kami inginkan, kepuasan di malam yang basah oleh rintik hujan ini.
Jam delapan malam aku ada janji dengan Cenit kekasihku untuk bertemu di rumah kost khusus putri ini. Padahal malam ini bukan malam minggu seperti biasanya kami bertemu. Tapi dia sms aku minta ketemuan, ada yang penting katanya. Aku paham yang penting itu apa.
Yang aku tidak mengerti ketika aku tiba di rumah kost itu, ternyata dia tidak ada. Liani teman sekost nya yang menyambutku. Dia suruh aku masuk dan ketika kutanyakan kemana Cenit, dia bilang sedang keluar sebentar, ada perlu dan dia pergi dengan Rinay kawan sekampungnya. Dia bilang, kata Liani, suruh tunggu saja nggak akan lama kok. Liani, gadis lain desa yang bertubuh tinggi semampai berkulit putih dan berambut panjang itu menyuruhku duduk.
Tak lama dia pergi ke belakang , mau bikin minum katanya. Aku manut saja seraya mengambil sebatang rokok. Diam-diam kerhatikan tubuh gadis itu dari belakang ketika berlalu. Cukup lumayan, tinggi dan lumayan montok. Apalagi malam ini dia hanya menggunakan sehelai baju tidur sebatas lutut tanpa lengan. Menampakkan gumapalan-gumpalan indah khas gadis desa yang terbiasa bekerja cukup keras.
Tak terasa aku menghela nafas sambil menyaksikan pemandangan tubuh Liani yang gemulai menuju ke ruang belakang yang agak gelap itu. Pantatnya lumayan besar dan berisi, sementara kedua betis tampak putih mulus dengan tumitnya yang kemerahan. Kalau tidak ingat Cenit kekasihku, mungkin gadis ini pun sudah kupacari, tapi katanya dia sudah punya pacar, entah siapa aku belum pernah ketemu dengan lelaki yang katanya jadi pacarnya itu.
Tak lama kemudian gadis itu kembali sambil membawa nampan dengan segelas air putih. “Maaf, Bang, cuma ini yang aku sediakan,” katanya sambil setengah embungkuk meletakkan gelas itu di meja di hadapanku.
Tanpa sadar belahan dada gaun tidur gadis itu agak melorot, menampakkan dua bulatan putih yang mau tidak mau merasuk ke mataku. Kuakui tubuhnya sangat sintal. Walaupun tinggi semampai, tubuh itu tampak padat dan berisi. Buah dadanya tampak menantang tatkala ia berdiri.
Liani mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depanku. Bibirnya tersenyum. “Ada perlu apa, Bang? Kok tumben nggak malam mingguan ke sininya?” tanyanya sambil membenahi rambutnya yang indah itu. Ia menatapku dari sudut matanya.
Gadis yang satu ini memang memanggilku dengan sebutan ‘Bang’, tidak seperti yang lain memanggilku’Kakak’. Aduhai tubuhmu Liani sangat sintal dan lagak lagumu malam ini seperti bukan kepada orang lain saja.
Gadis itu duduk dengan santainya di depanku sembari memegangi nampan di perutnya. Tak ada canggung sedikit pun ketika mengangkat kedua kakinya dan membiarkan gaunnya yang selutut itu tertarik sampai ke batas paha. Aku menelan air liur ku sendiri. Di rumah kost yang sepi ini hanya kami berdua sementara Cenit dan Rinay entah ke mana….
“Masih lama mereka kembali, Liani?” tanyaku asal saja sambil meraih gelas minumku. Gadis itu menatapku lurus-lurus di mataku. Entah apa yang ada dalam benaknya malam ini. “Entah.” Katanya sambil menggeliat, merentangkan tangannya, kedua pangkal lengannya terangkat ke atas menampakkan ketiaknya yang bersih.
“Mungkin dua puluh menit atau setengah jam lagi mereka kembali. Katanya ada perlu, Bang.” Gadis itu menguap dengan enaknya di depanku. Kemudian ia menengadah menampakkan lehernya yang putih mulus itu. Hmm.. gadis ini agak-agak mirip Chinese walau sebenarnya bukan. Tapi terus terang aku cukup tertarik dengan kesintalannya.
“Kenapa gitu, Bang? Bosen ya… Nggak sabar ingin cepat ketemu.”
“Tahu aja perasaan orang…” jawabku sambil tertawa kecil.
“Hmm… tahu dong. Nggak sabar pengen… ”
“Pengen apa, hayo!”
“Pengen … ‘itu’ ya… ” katanya nakal sambil terkekeh.
“Itu apa? Itu … kalau itu kamu juga punya kan?” kataku agak sembrono. Gadis itu
merapikan posisi duduknya agak cepat. Tapi kemudian dia santai lagi sambil terus menggeliat, seolah ada kepenatan yang hendak dilepaskan dari tubuhnya itu. Dua gundukan dada itu menyembul dari balik gaun tidurnya yang berwarna biru itu. Tampak tali behanya yang berwarna hitam.

“Ngeliatin apa sih?” katanya sambil memperbaiki tali kutang yang agak melorot di bahunya. “Nggak.” Jawabku sekenanya. Ku lihat ia menatapku tajam. Aku balas menatap. Wajahnya tampak memerah. Aku menahan nafas. Apa rasanya gadis ini? apa bedanya dengan Cenit kekasihku?
Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat begitu saja. Seolah dunia sudah jungkir balik. Tak ingat lagi dengan Cenit, dengan Rinay temannya yang barangkali akan pulang. Aku pun bangkit, meraih tangan gadis itu. Liani diam saja, tapi dia tersenyum sambil tertawa sedikit.
“Nggak ada waktu, Kak…” katanya pelan tapi membalas remasan tanganku. Kuselipkan jemariku di jemarinya, dia membalas. Matanya menatapku seolah mengatakan, kalau ingin melakukannya lakukanlah sekarang juga mumpung Cenit dan Rinay belum pulang. Dan itu tidak masalah apakah mereka akan tahu atau tidak, aku pandai menjaga rahasia.
Bisikan-bisikan itu mengiang di telingaku semakin membuat gairahku bangkit. Apalagi jika kulihat tubuh Liani yang montok dan dadanya yang naik turun menahan nafas yang mulai terengah.
Semakin lama remasan semakin erat. Tubuh kami semakin merapat dan terasa tubuh gadis itu memanas. Entah oleh nafsu entah oleh hasrat yang tertahan. Tidak, aku tidak akan menyia-nyiakan kehangatan yang disuguhkan gadis ini, meski bukan kekasihku, tapi… perselingkuhan selalu terasa nikmat.
Dia memang beberapa tahun lebih tua dari gadisku, cenderung lebih dewasa, tapi tak kusangka dia menyimpan kehangatan dan hasrat memadu cinta yang begitu terpendam dan panasnya memancar di malam ini.
“Kak… di dipan itu aja, yuk.” Ajaknya. Senyumannya dari wajahnya yang memerah kelihatan agak genit. Aku setuju, walau pun cuma dipan beralas kasur tipis jadilah. Yang penting aku bisa menikmati tubuhnya malam ini.
Maka, seperti orang kesetanan sambil berpeluk erat kami melangkah ke arah dipan. Di pinggir dipan ia melepaskan pelukanku, dan perlahan tapi pasti menurunkan gaun tidurnya.
Aku hanya bisa memandang mengagumi tubuhnya yang putih mulus dan penuh padat berisi itu. Sementara menurunkan celana dalamnya ia memandangku sembari menatap ke arah bawah. Oh, aku belum membuka celana panjangku, terlalu mengagumi kemolekannya….
Tak lama kemudian kami sudah berpelukan hampir tanpa busana. Dia berada di bawah dalam posisi tradisional. Siap dan menanti untuk dimasuki oleh lelaki yang bukan kekasihnya ini.
Kalau Cenit memerlukan fore play yang cukup lama sebelum terbangkitkan, dia barangkali tidak memerlukan itu. Atau… “Kalau malam begini… aku selalu membayangkan bersamamu, Bang. Bisiknya di telinga, kedua tangan melingkar erat di leherku. Pipinya menempel erat dipipiku.
“Benarkah?” jawabku sambil mencium pipi hangat itu. Liani mengangguk. “Kadang bayanganmu begitui jelas seolah merasuki tubuhku…. Kalau begitu aku suka… emmh.. basah, Bang.”
“Oh, ya?”
“Iya… coba kamu rasakan, Bang.” Katanya sambil menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan kemaluannya di batang penisku. Ya, terasa hangat dan basan…
“Sebelum kamu datang, aku sudah membayangkan dirimu.. emhhmmm… tanpa sadar ‘dia’ pun … sudah basah… Aku mencium telinga Liani, dia seperti merinding., tubuhnya menggelinjang karena merinding kegelian.
“Kadang…” bisiknya lagi, “Keluar banyak sekali, sampai membasahi celanaku… sekarang juga udah begitu, Bang.”
Ya, aku rasakan itu, sangat hangat dan sangat basah. Penasaran aku menyelusupkan jemariku ke daerah itu. Ya ampun! Sepertinya aku memasukkan tanganku ke seember lumpur yang hangat. Tak disangka, gadis pendiam ini ternyata menyimpan bara begitu panas. Sebuah rahasia yang selama ini dia pendam…
“Masukkan punyamu, Bang!” pintanya … “Aku udah gak tahan lagi, sedari tadi aku menahan rasa terhadapmu… jangan sia-siakan malam ini… walau sebentar, aku akan puas….”
Gadis itu menggelinjang sekali lagi, membetulkan posisi berbaringnya dan membuka pahanya sedikit lebih lebar agar mudah aku menggelosorkan kemaluanku ke liang senggamanya yang hangat itu.
Terasa meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu. Terus masuk dan membenam sambil ke celah yang paling dalam. Gadis itu mengetatkan pahanya dan pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan.
Tubuhnya terasa semakin memanas. Pelukannya begitu erat dan buah dadanya yang menempel menekan ke dadaku. Dia sudah begitu bernafsu, nafsu yang di pendam lama dan ingin di lepaskan dalam pelukanku malam ini juga.
Terus terang di menit-menit penuh cinta itu aku tidak ingat lagi dengan Cenit. Gadis ini butuh dipuaskan. Hasrat yang sudah menyeruak tidak bisa lagi di tarik surut ke dalam. Segala rem sudah di lepas dan kami pun melayang tanpa kendali menikmati semuanya malam ini….
Kurasa hujan di luar semakin deras. Titik air yang berjuta-juta itu seolah berlomba terjun ke bumi menimbulkan suara gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tak sedahsyat gemuruh nafsu kami berdua, aku dan Liani yang tengah menikmati cinta.
Entah sudah berapa kali batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. Sudah berapa kali pula dia menggepit-gepit dan memelukku dengan erat dengan kedua tangannya. Entah berapa kali ia terengah dan menggelinjang menggeram penuh nikmat.
“Hhhhhh… ehhhhhhh..hhhhhh….” erangnya setiap kumainkan dan kutekan pantatku ke kemaluannya. Luar biasa, setiap tekanan ke bawah di balasnya dengan tekanan ke atas.
Kurasa sudah sepuluh menit aku mengayun pinggul di atas tubuhnya. Liang kemaluannya terasa semakin rapat dan sangat licin, mencengkram kuat batang kemaluanku yagn menegang.
Aku kendurkan sedikit gerakanku. Mengalihkan perhatian ke tubuh bagian atas. Liani mengerti, ia meregangkan tubuhnya menarik kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat itu meenyeruak dari pelukanku. Buah dada gadis desa yang besar dan kenyal, tidak seperti payudara anak-anak kota yang besar tapi loyo….
Dua gumpalan kenyal itu pun kusergap dengan mulutku. Ku lahap dan kukunyah-kunyah sepuas hati. Putting susunya yang merah itu ku kulum dan kuhisap-hisap sambil kugigit sedikit.
Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….
“Ohhh.. geli, Bang!” aku terus mengulum…. Berganti ke kiri dan ke kanan, kemudian tanganku pun meremas-remas pangkal payudara Liani dengan gemas. Sangat kenyal, hangat dan enak rasanya.
“Aku udah gak tahan lagi… Bang,” rintihnya lirih, tubuhnya semakin panas dan berkeringat, tubuhku juga sama. Dalam hawa malam yang cukup sejuk karena hujan itu seolah tubuh kami mengeluarkan uap. Tubuh bugil bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tak tertahankan.
Setelah puas dengan buah dada kenyal itu, aku memeluk punggung gadis itu. Kurasa dia mengangkat lututnya, menggepitnya di pantatku. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya dan memelukku di pinggang.
“Tekan-tekan lagi, BAng.” pintanya.
Aku juga sudah pingin merasakan gesekan kemaluannyai. Sambil saling berpagut erat aku mengayunkan lagi pantatku di atas rengakahan pahanya yang montok itu. Dia pun semakin menggepitk-gepitkan kakinya.
Sekarang kami konsentrasi ke setiap gesekan, setiap lipatan, setiap senti dari liang kemaluan Liani. Malam ini sunguh hanya milik kami berdua. Gesekan-gesekan itu semakin lama semakin berirama. Sementara Liani melakukan aksi yang menambah kenikmatan, ia menggepit… lalu menahan. Gepit tahan gepit tahan…. Oh tak terlukiskan enaknya bercinta dengan gadis ini.
Gesekan itu semakin intens kami lakukan. Sampai-sampai kami tak sadar kalau hujan sudah berhenti. Malam di luar terasa hening…. Tapi di atas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua tubuh saling memompa berpacu mengejar waktu. Takut kalau Cenit dan Rinay keburu pulang.
Aku pun mempercepat ayunanku… sehingga di malam yang menjadi sunyi ini terdengar jelas suara penisku yang keluar masuk ke kemaluan Liani. Beradu rsa dalam limpahan cairan kemaluan Liani..
‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek….
Kejantananku naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar jelas sekali di telinga kami berdua. Sesekali kutekan akan kuat, gadis itu membiarkan dan menerima tekanan itu, menggeolkan pantatnya berkali-kali agar kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluanku yang keras.
“Tekan terus, Bang.. aihh…”
Aku menekan lagi sambil menggerakkan pantat ke kiri dan ke kanan. Mungkin dia merasa gatal dan ingin gatal itu digaRinay sampai tuntas…. PenggaRinaynya adalah batang kemaluanku yang dia cengkram dan dia benamkan sedalam-dalamnya.
“Ohhh..ohhhhhhhhh,” lolong gadis itu melepas nikmat. Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari menggepit kuat. Tubuh Liani menggelinjang dan menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan air mani kewanitanya.
“Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sambil menyurupkan wajahnya ke leherku, lehernya nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.
Saat itulah aku pun bersiap hendak keluar dan menyemburkan kenikmatan di kemaluanku. Tapi sesuatu menyebabkan aku berhenti …Masih dalam keadaan bersetubuh dengan Liani… ada sekelebat bayangan melintas. Aku memandang dengan ujung mataku, di lantai tampak ada dua bayangan seperti diam terpaku. Aku pun terkejut … bayangan siapa itu?
Perlahan kulihat wajah Liani yang matanya masih setengah terpejam. Kemudian matanya perlahan terbuka… Dia pun melihat bayangan itu dan menatap langsung ke ruang tengah. Samar-samar di bola matanya yang hitam itu kulihat dua sosok berdiri menatap ke arah kami.
Itu bayangan Cenit dan Rinay! Rinayanya sudah beberapa menit tadi mereka berdiri di sana, menatap kami yang sedang asyik memagut cinta. Apakah mereka tadi mendengar juga.. bunyi crek…crekk.crekk.. alat kelamin kami yang sedang berkelindan? Entahlah, aku tak berani membayangkan hal itu.
Anehnya, meski pun Liani sudah tahu kehadiran mereka, dia diam saja. Tidak memberi tanda bahwa kekasihku dan temannya sudah pulang. Bahkan seolah membiarkan mereka menonton kami yang sedang beradegan mesra di atas ranjang.
Terdengar bunyi deheman kecil, dehem khas suara perempuan. Seolah memaklumi kami yang masih dalam posisi senggama ini. hmmm… aku tahu itu suara Cenit, aku bisa membedakannya.
Sedetik dua detik aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, kemudian Liani melakukan sersuatu yang tidak kuduga. Dia seperti melambaikan tangan dari balik punggungku. Menyuruh kedua ‘adik’ kostnya itu masuk ke kamar…
“Teruskanlah, Bang. Nggak apa-apa, kok….” Bisiknya di telingaku. “Ngapain malu.. kita kan sedang enak, kamu enak aku enak…. Mereka juga pasti maklum….”
Oh, ya? Bercinta dengan orang yang bukan pacar, dan dilihat oleh mereka pula? Apa pula ini?Exibit kah ini? Ya, sudah! Aku gak sempat memikirkan sejauh itu. Kalau bagi Liani tidak apa-apa, dan Cenit serta Rinay pun justru menikmati pemandangan ini…. kuteruskan saja.
Perlahan dua gadis itu berlalu, seperti tak terjadi apa-apa, kecuali tawa kecil Rinay yang terdengar. Aku memandangi mereka yang pergi menjauh, tiba-tiba Cenit menoleh ke belakang. Dia menatap mataku langsung, di bibirnya tersungging senyuman yang aneh … di situasi seperti ini… senyum yang tampak nakal.
Aku tak tahu apa akan terjadi sesudah ini, bagaimana hubunganku dengan Cenit? Bagaimana pula aku akan menemui mereka setelah ‘permainan’ penuh keenakan ini? Tak bisa lagi aku berlagak seperti seorang lelaki yang setia hanya pada satu perempuan. Tapi tampaknya Cenit pun tak keberatan jika aku mengencani kakak kostnya Liani.
Ah. Dunia ini memang aneh… di tempat yang tampaknya biasa-biasa saja ternyata tersimpan bakat-bakat cinta yang terpendam yang menanti untuk dikeluarkan dan dinikmati setiap lelaki semacam aku. Aku tak tahu harus bergembira atau… entahlah!
Aku meneruskan permainanku dengan Liani. Gadis itu sudah sampai ke puncak syahwatnya… kini giliran aku. Perlahan-lahan aku mulai memompa lagi … kemaluanku naik turun menggesek kemaluan Liani yang basah itu. Bunyi crek.. crek.. crek.. creeeek… terdengar ke segenap ruangan.
Aku agak termangu mendengar suara itu… tidakkah akan sampai ke telinga mereka berdua yang sekarang sudah ada di kamarnya?
“Terusin aja, Bang….. Kalo enak ngapain juga di berhentiin” bisik Liani seolah hendak menghapus keraguanku. Maka aku pun meneruskan lagi, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan… tak lama kemudian creett…cretttt… sambil menekan aku keluarkan air maniku di dalam kemaluan Liani yang mencengkram erat itu. Oh nikmatnya.
Beberapa menit telah berlalu. Sesudah menghapus keringat di dadaku Liani mengenakan pakaiannya. Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia merapikan rambutnya yang kusut masai. Wajahnya tampak puas. Sangat puas telah beroleh kenikmatan yang selama ini didambakannya. Seraya membetulkan tali beha dan menyempalkan payudara besarlnya ia berkata.
“Bang, aku masuk dulu ke dalam…. Nanti Cenit kusuruh keluar, ya!”
Aku hanya mengangguk mengiyakan, gadis itu pun bangkit dan berlalu dari hadapanku. Sementara aku duduk termangu sambil menghisap sbatang rokok. Tak lama kemudian Cenit keluar menemuiku, kali ini tidak memakai busana yang dikenakannya tadi, tapi sudah berganti dengan gaun tidurnya yang berwarna pink. Bahannya yang halus menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Aku menelan ludah… pasti dia bakal marah karena kelakuan kami tadi.
Dia hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Tak tampak tanda-tanda emarahan di sana. sejenak dia hanya diam.. kemudian tiba-tiba dia bangkit dan ‘menyerbu’ ke arahku.
Melingkarkan tangannya di leherku dan menciumiku penuh nafsu. Aneh, dia tidak marah, bahkan setelah melihat kami bercinta seolah nafsunya bergelora ingin dipuaskan juga.
“Cenit… maafkan.. aku telah…” belum sempat kuselesaikan kalimatku dengan bernafsu dia mencari bibirku dan menciuminya dengan garang. Oh,… gelagapan aku dibuatnya. Aku tidak tahu, apakah dia marah atau sudah terangsang…. Aku balas ciuman itu, lidahnya terjulur dan bertemu dengan lidahku. Beberapa saat lamanya lidah kami berjalin berkelindan seperti tak mau lepas. Dengan rakus pula dia hirup air liurku, meneguk dan menelannya. Setelah puas giliran aku yang menghisap cairan mulut itu. Setelah itu kami melepas ciuman dan saling memandang selama beberapa saat.
Tanpa banyak berkata-kata dia menurunkan gaunnya ke bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang tidak memakai beha. Putting susunya meruncing dan tegang.
“Aku terangsang sekali melihat kalian berdua tadi…. ” katanya terengah sambil mengasongkan kedua susunya ke arahku. Aku pun menyambut, tangan kiriku meremas dan mulutku mengulum puting susu yang satunya. Tiba-tiba gerakankuterhenti. Dengan wajah kaget Cenit menatapku heran. Aku lupa mematikan puntung rokok yang ku hisap tadi. Gadis itu tersenyum dan kamipun melanjutkan permainan hangat ini. Buah dada besar montok dan kenyal itu kukunyah sepuas hati.
Cenit mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepalaku, mengusutkan rambutku. Masih dalam posisi duduk ia mengangkang .. melepas gaunnya yang sudah setengah terbuka…. Dia pun tidak bercelana dalam sehingga gundukan vaginanya yang tebal dan tidak berambut itu merekah di depanku.
Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela celah kemaluannya. Di tak pedulikannya. Dibiarkan lendir bening itu mengalir…. Bahkan dia menyuruhku untuk memegangnya… jemariku menyelusup ke liang senggama Cenit, hangat dan sangat basah oleh cairan pelicin.
Kusentuh klentitnya yang merah dengan ujung jemariku. “Akhh….” Cenit melolong tertahan. “Geli, Kak!” desahnya tersentak. Kemudian sembari memeluk leherku, dan mencium keningku dia mengajakku ke dipan tempat aku dan Liani tadi bercinta.
Tak banyak cingcong kurengkuh dan kugendong tubuh hangatnya ke dipan itu. Di sana dia kubaringkan. Tapi ketika aku hendak membuka celana, tiba-tiba ia mendudukkan tubuhnya yang sudah bugil itu. Aku heran, apa yang akan dia perbuat.
“Bukalah celanamu, Kak!” katanya tak sabar sembari menarik resleting celana panjangku. Setela memelorotkan celana dalamku, dengan sangat bernafsu ia memegangi pangkal kemaluanku yang kembali menegang.
“Besar dan nikmat….” Seru Cenit sambil meremas-remas kemaluanku.
“Sekarang giliranku…” katanya agak keras.
Ia turun dari dipan dan berdiri di sampingku, di dorongnya dadaku ke arah dipan, menyuruhku berbaring disana. Aku menurut. Setelah aku berbaring, Cenit pun menaikkan sebelah kakinya dan mengangkang di atas. Perlahan dia menekuk tubuhnya dan memelukku dari atas.
“Masukkan, Kak.” Pintanya dengan nada gemas. Ia memegang batang kelaminku itu dan memasukkannya ke dalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak kasar dia menghenyakkan pantatnya ke bawah agar kemaluanku masuk lebih dalam ke tubuhnya.
“Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya. Dalam posisi di atas dia menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluanku di cengkram dan di gesek-gesek seperti itu. Geli rasanya.
Posisi di bawah jarang aku lakukan…. Tapi kali ini aku menerima saja, karena tadi sudah lumayan capek meladeni Liani. Kali ini Cenit yang giat menekan-nekankan pantatnya, maksudnya supaya punyaku masuk lebih dalam.
Sembari memelukku erat, ia terus mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi… kali ini bahkan di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihku.
Aku terus berbaring sembari meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina terasa terus merembes dari kemaluan Cenit. Dia sudah sangat terangsang. Liang kemaluannya sangat basah dan panas. Sesekali ia menekan dan menahan. Seolah hendak melumat habis seluruh kemaluanku dengan vaginanya. Terang saja aku pun semakin keenakan.
Diam beberapa saat menahan tekanan, dia pun mengendurkan dan memulai lagi gerakan naik turunnya. Aku terus meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menekan ke arah dadaku, hampir membuatku sesak nafas. Tapi aku pasrah.. lha wong enak rasanya.
Selama sepuluh menit Cenit bergerak naik turun, nggak cape-cape kelihatannya. Tubuhnya semakin basah oleh keringat, bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Sebagian mengalir ke ujung hidung dan menitik menimpa wajahku. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai..
Aku mencoba memiringkan kepala mencoba mengurangi titikan keringat di wajahku. Pada saat itulah kembali aku terkesiap. Di ujung ruangan, di pintu kamar Cenit, tegak sesosok tubuh perempuan menatap kami dengan matanya yang bulat.
Mata besar milik Rinay, teman sekost Cenit. Dia menatap kami tanpa berkedip. Tangan kanannya tertangkup di dada. Sementara yang kiri tampak meremas-remas ujung gaun tidurnya yang di atas lutut.
Ketika kami saling memandang… dalam posisi Cenit masih di atas dan asyik dengan empotan-empotannya. Perlahan tangan kiri Rinay mengangkat ujung gaun merahnya. Terus terangkat ke atas menampakkan paha gadisnya yang padat…
Entah sadar entah tidak gaun itu sudah sedemikian terangkat, sehingga aku bisa melihat celana dalam yang tersingkap. Kemudian ia menarik pinggir celana dalam itu… menampakkan segumpal tumpukan daging berbulu dengan celah merah di tengahnya.
Ujung jemari menyentuh bagian tengah celah itu. Menekannya dan memutar-mutarnya sedikit. Ya ampun… kemudian dia menatapku.. dengan mata setengah terpejam.
Saat itulah Cenit menengadah…. Dan menyurukkan kepalanya ke leherku, memelukku kuat dan mulai mendesah berkepanjangan. Pantatnya menekan kuat sampai seolah kemaluanku mau ditelannya sampai habis.
“Kak.. enak sekali.. ahh” terasa kemaluan Cenit berdenyut hebat, tubuhnya bergetar tak kuasa menahan nikmat… nafasnya sangat memburu… dan..
Dia pun lunglai dalam pelukanku…. Sementara air mani gadis itu mengalir tak tertahankan, meluap dan mengalir membasahi sampai bagian perutku.. aku peluk gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf setelah ia tadi sangat tegang menikmati puncak orgasmenya.
***
Sampai beberapa menit kami masih berpelukan, kejantananku yang masih tegang itu masih berada di dalam ’sangkar’-nya. Cenit diam tak bergerak dalam pelukanku, sepertinya dia lupa ada sesuatu yang bersemayam dalam tubuhnya.
Perlahan gadisku ini mengatur nafasnya yang tidak teratur. Setelah agak reda… perlahan dia bangkit dan melepas persetubuhan kami. Lambat ia mengangkat pantatnya ke atas. Perlahan alat kelaminku itu keluar dari vagina Cenit. Ketika sudah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental nampak melumuri batang kemaluanku. Ketika bagian ‘kepala’-nya akan keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah akan di lepas..
Clep..crrrllek. Cenit tersenyum mendengar suara itu. Entah suara lipatan kemaluannya atau karena lendir yang begitu banyak melumuri batang kemaluanku.
Ia pergi ke tengah ruangan dan memakai gaunnya kembali, rona wajahnya menampakkan kepuasan yang tiada terkira. Sambil bernyanyi kecil, seperti baru sudah pipis, ia memebenahi rambutnya yang kusut masai. Dan berjalan ke belakang rumah, meninggalkanku yang hendak mengenakan celana dalam ku.
Belum sempat aku memakai celana itu, tiba-tiba Cenit sudah kembali. Membawa sehelai kain sarung dan menyuruhku mengenakannya. “Pakai ini aja, Kak!” katanya seraya mengambil celana panjang dan kolorku, melipatnya dan merengkuhnya dalam dada. Kemudian ia pun kembali ke belakang.
Tak lama kemudian ia datang lagi, membawaku segelas minuman, kalau tadi Liani membawakanku segelas air putih, kali ini Cenit menyuguhiku dengan teh manis. Aku segera mereguknya karena merasa kehausan, bayangkan saja melayani dua wanita secara bergilir tanpa istarahat sama sekali. Capek donk!
Ketika aku meminumnya, alis mataku terangkat, minuman apa ini? Rasanya kok pahit banget? Sebelum sempat bertanya Cenit berkata perlahan, “Itu sari dari akar Pasak Jagad Kak!”
“Haa?
Kekasihku tersenyum, itu kan obat kuatnya lelaki, kalau minum jamu itu pasti bakal melek semaleman, kataku sesudah menelan tegukan terakhir. Gadis itu hanya tertawa kecil. ‘Biar aja nggak tidur semaleman… besok kamu kan nggak kerja, tidur aja sepuasnya di sini.
Setengah jam kemudian kami masih ngobrol di ruang tamu. Masih terbayang-bayang permainan kami berdua barusan. Tak disangka begitu bernafsunya Cenit, sampai-sampai kuat main di atas hampir setengah jam lamanya, sementara aku anteng aja di bawah.
Tiba-tiba Cenit bangkit…”Kak,” katanya, “Aku ke dalam sebentar.” Aku mengiyakan saja, kupikir dia mungkin mau sedikit merapikan dandanannya yang agak amburadul itu.
Aku akan menghela nafas ketika terdengar dia memanggilku dari kamar.
“Sini sebentar, Kak!”
Aku pun bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya, sebelum tiba di pintu kamarnya aku melewati kamar Liani yang hanya dihalangi secarik kain gorden, diam-diam ku singkap tirai kamar itu. Tampak Liani tertidur pulas, masih mengenakan gaun yang tadi, pahanya yang terbuka nampak putih dan mulus.
Kamar berikutnya adalah kamar Rinay, hmmm… jantungku berdegup agak kencang. Apa yang dilakukannya tadi ketika aku dan Cenit sedang menikmati seks? Entahlah, aku tak tahu. Tapi aku pengen tahu sedang apa dia sekarang?
Perlahan kusingkapkan juga tirai pintu kamarnya itu. Kasur tempat tidurnya masih tampak rapi, bantal tersusun di tempatnya. Ke mana cewek itu? Kok nggak ada di biliknya? Sedikit heran aku terus melangkah menuju kamar Cenit.
“Masuklah, Kak! Jangan malu-malu, aku tahu kamu sudah berada di situ.” Kata Cenit lagi, bergegas aku pun masuk ke kamarnya…
Oh di sini rupanya Rinay, dia sedang tidur telungkup di dipan Cenit, sementara cewek ku itu sedang menyisir rambutrnya menghadap ke cermin. Tanpa mengacuhkan aku dia pun menyuruhku duduk di dipan dengan gerakan tangannya.
Dipan ukuran single itu lumayan sempit, apalagi sekarang sudah ada Rinay yang tidur di sana. Cenit berbalik menghadapku, ditatapnya aku dengan tajam. Kemudian perlahan dia mengalihkan pandangannya ke tubuh temannya yang masih telungkup itu.
“Terserah kamu, Kak. Mau di sini atau di kamarnya…. Aku ikhlas aja, yang penting…. Dia bisa juga ikut merasakan ….”
Aku melongo? Dia suruh aku menikmati pula tubuh Rinay!? Tubuh perempuan sintal yang sedang tertelungkup ini? Cenit mengangguk pasti.

“Kami lihat apa yang kalian lakukan, Rinay pun lihat kita tadi… kami bertiga bersahabat, resminya kamu memang milik aku… tapi.. berbagi antar sahabat tak ada salahnya, bukan? Lagi pula aku rela kok, selama tidak dengan yang lain selain mereka.”
Dalam hati aku cuma bisa mengangkat bahu. Kalau dia sudah mengikhlaskan temannya, dia tidak marah apalagi jadi membenci aku, lagi pula kalau dengan begitu dia jadi terangsang dan menikmati juga, apa salahnya.
Aku berpikir cepat, katakanlah malam ini adalah semacam sex party, dan aku menjadi rajanya sementara menjadi ratuku yang harus kupuaskan, oke saja sih. Hehehe. Kebetulan aku ingin mencobai juga tubuh Rinay yang berkulit sawo terang ini.
“Aku menunggu di kamarnya,” kataku kepada Cenit, cewek itu mengangguk setuju.
Dipan singel Rinay terasa cukup nyaman. Bantalan busanya masih cukup baru, dia memang belum lama kost di rumah ini, mungkin baru setengah tahun. Aku berbaring dengan rileks. Memandangi dinding kamar yang dipenuhi poster Cenit sambil memikirkan apa yang telah kudapat malam ini.
Mula-mula Liani menyerahkan dirinya kepadaku, kemudian Cenit yang memintaku untuk memuaskannya, dan sekarang Rinay, gadis paling pendiam yang jarang ngobrol denganku. Gadis ini pun menginginkan ku pula… hehehe.. dasar gede milik, yeuh
Semilir halus wangi parfum masuk ke hidungku.Terdengar pintu kamar terbuka, perlahan Rinay masuk ke kamar itu. Seperti orang baru bangun tidur. Ia langsung duduk di dipan itu, “Ada apa, Kak?” tanyanya seolah tak mengerti. Aku tersenyum, pandai juga dia menyembunyikan perasaan sebenarnya.
“Eh, kain sarung siapa yang kamu pakai itu, Kak?”
“Hehe.. ini pemberian Cenit tadi..”
Kedua bola mata gadis itu membulat… menatapku seolah tak percaya. Terus terang saja, dia cantik juga. Rambutnya yang ikal itu dibiarkannya tumbuh sampai sebatas punggung. Meski baru bangun ‘tidur’ tapi tak mengurangi kesegaran dan pesona cantik yang terpancar di wajahnya.
Aku menarik gadis itu ke pelukanku, tubuhnya terasa berat karena ia seperti menolak, tapi kemudian malah dia yang merangsek dalam dekapanku.
“Jangan , Kak! Nanti Cenit marah..” katanya berbasa-basi.
“Dia marah kalau aku tidak menayangimu juga….”
“Kamu bisa aja, Kak!” katanya sambil menengadah dan menyentuh pipiku. Aku mengecup bibirnya, dia sangat menikati kecupan kecil itu, matanya terpejam, tubuhnya melunglai, dan aku pun memeluk tubuh sintal itu lebih erat.
Ia membalas pelukanku dan membiarkan bibirnya kulumat… beberapa kali ia mengeluh nikmat. Terasa tubuhnya bergetar ketika aku mulai merengkuhnya. Kemudian aku pun mulai menyusuri seluruh lekuk dan liku tubuh gadis itu. Semakin lama tubuh itu terasa panas, setiap gumpalan dan tonjolan dagingnya terasa begitu membara dipenuhi gairah terpendam.
Aku membaringkan tubuhnya sementara kedua tangannya terus melingkar di leherku. Nafasnya terdengar agak memburu, gadis ini sudah mulai terangsang. Kuperiksa bagian kemaluannya dengan jemariku. Ternyata belum cukup basah, masih terasa agak kering. Kucumbu dia terus supaya gairahnya lebih menggelora….
Entah berapa lama kami saling mencium saling menyusup dan berkelindan, aku pulang suka buah dadanya. Sangat kenyal, besarnya pun sedang saja, tapi putting susunya sangat kecil, hanya sebesar biji kacang hijau. Tampak sekali putting itu sudah mengeras.
Ketika kuremas-remas buah dadanya, wajah gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat, bibir agak terbuka. Setiap remasan adalah rangsangan bagi tubuh segar ini. Semakin intensif aku meremas, semakin intens juga dia menikmatinya. Ketika kuraba kemaluannya, lendir pelicin yang kental sudah mulai keluar.
Perlahan aku mengusap-usap jembut halus yang tumbuh di sana. Sesekali agak kutekan agar menyentuh bagian klentitnya. Tuibuhnya menggelinjang karena geli.
Perlahan tapi pasti cairan pelicin itu mulai keluar, merembes ke permukaan dan mengakibatkan jembut-jembut halus itu terasa mulai kuyup. Hmmm.. Rinay sudah siap untuk dimasuki. Sambil memegang pangkal kemaluanku aku pun memasukkannya. Terasa licin dan rapat. Batang kemaluanku seperti menembus lipatan daging hangat yang basah oleh lendir.
Creep…. Masuklah aku ke tubuh Rinay. Gadis itu melepas nafas panjang, merasakan nikmatnya gesekan di kemaluannya. Entah kenapa aku sangat-sangat terangsang dengan gadis ini, mungkin ini bukan yang pertama baginya, tapi… dia melakukannya seperti baru untuk pertama.
Sepuluh menit pertama kami mengadu rasa, menggesek-gesekkannya dengan gerakan rutin. Sementara Rinay pasrah saja sambil memelukku dan membenamkan wajahnya di leherku. Nafasnya semakin lama semakin memburu, tubuhnya semakin panas. Titik-titik keringat mulai keluar dan lama-lama peluhnya semakin membanjir.
Kota kecil ini memang lumayan panas meski di malam hari, apalagi rumah kost itu tidak berAC, tubuhku pun kembali berkeringat. Tapi kami tak peduli, kami terus berpelukan menikmati pergumulan itu.
Kami masih bergumul ketika akhirnya memasuki tahap kedua. Kukeluar-masukkan penisku secara berirama di liang kemaluannya yang pasrah itu. Gadis itu memelukku lebih kuat. Tak peduli dengan tubuh yang bersimbah peluh.

‘Crekecrekecrek…’. Sepuluh menit lamanya aku menggesek-gesek kemaluan Rinay dengan kemaluanku. Terasa punyaku semakin menegang keras. Kemudian aku menekan… Rinay membalas dengan mengempot ke atas. Menggerakkan pinggulnya berputar-putar, ganas sekali putarannya. Aku naik turunkan lagi pantatku beberapa kali, kemudian kutekan dalam-dalam….
“Ahhh…,” gadis itu mendesah nikmat. Kemudian membalas lagi dengan tekanan ke atas, sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan kekanan. Lipatan kemaluannya yang hangat terasa semakin kenyal dan licin.
Beberapa kali kami melakukan itu, aku pun jadi tak tahan. Tapi dia belum mencapai puncak. Aku akan membuat dia duluan merasakan kenikmatan.
Aku pun semakin aktif mengocok dan menekan memek Rinay. Tulang kemaluan kami beradu, bibir kemaluanya yang tebal menahan tekanan itu dengan nafsu, terasa hangat dan sangat basah karena lendir mani Rinay sudah melimpah sedari tadi.
Dua menit kemudian gadis itu melolong merasakan vaginanya berdenyut nikmat.. “Ooohhhhh….”
Aku membantunya dengan menekan semakin dalam. Rinay pun membenamkan tubuhnya ke kasur, menahan tindihanku sambil melepas nikmat, seiring dengan mengalirnya air mani prempuan itu dengan lebih deras. Merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.
“Enak sekali, Kak…eigh oh…!”
Berbarengan dengan itu akan pun mencapai puncak. Kemaluanku terasa berkedut seiring dengan menyemburnya air maniku di liang senggama gadis itu. Sementara liang senggama Rinay pun menggepit-gepit tak terkendali karena tak kuasa menahan nikmat yang luar biasa.
Kami masih berpelukan ketika rasa nikmat itu tercapai sudah. Gadis itu diam dalam pelukanku, tubuhnya sangat basah oleh peluh. Hawa panas pun terasa menyergap. Berangsur kami saling melepas pelukan.
Perlahan gadis bangkit itu duduk dari posisinya. Gurat-gurat kepuasan terpancar di wajahnya yang cantik. Sekilas ku lihat memek Rinay yang masih merah dan bibirnya tampak membengkak, cairan-cairan lendir masih menetes dari sela kemaluannya.
“Enak, Rinay?” gadis itu mengangguk. Kemudian ia mengusap keringat yang menitik di dadaku. “Dadamu penuh dengan peluh, Kak. Sini kuusap,” katanya sambil mengelus lembut dadaku yang memang penuh dengan keringat.
Beberapa saat lamanya kami kemudian berbaring bersama di kasurnya yang sempit itu. Rambutnya yang ikal dan panjang itu kubelai. Ia bergerak, menyusupkan tangannya di leherku, kemudian memintaku terlentang, dia ingin tidur di dadaku, katanya. Beberapa saat kemudian Rinay pun jatuh tertidur, tak menyadari air liurnya yang menitik dari sudut bibir. Aku pun segera terbang ke alam mimpi.
Entah jam berapa kami terbangun. Ketika itu aku dan Rinay masih berpelukan, sementara di luar terdengar suara-suara seperti sedang bernyanyi. Oh, ternyata hari sudah siang. Itu adalah suara Cenit yang sedang bernyanyi kecil, sementara di kejauhan terdengar suara orang sedang mandi, barangkali Liani sedang membersihkan tubuhnya.
Rinay pun sudah mulai terjaga, ia masih memelukku, buah dadanya yang kenyal itu menempel erat di dadaku. Dari ruang tengah terdengar Cenit sepertinya sedang menyapu lantai. Sementara dari bibirnya terdengar nyanyian yang sekarang sedang populer.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, kemudian gorden disingkapkan, dan masuklah Cenit ke dalam kamar, menatap kami yang masih bugil hanya berselimut kain sarung.
“Hei, bangun! Belum puas juga ya!”
Aku pura-pura tidur sambil memeluk Rinay lebih erat. Gadis itu terkikik… tapi dia juga pura-pura meneruskan tidurnya. Cenit berlagak marah dan menarik kain sarung penutup tubuh kami.
“Apa mau diteruskan lagi tidurnya? Udah siang tauu,”
Aku menarik kain sarung itu, malu karena kemaluanku sedang menegang setelah beristirahat total beberapa jam. Tapi kalah cepat, Cenit sudah menangkap batang kemaluanku dan mengusap-usap dengan jemarinya.
“Oh, jauh lebih besar dari gagang sapu ini… pantesan enak sekali.” Guraunya sambil tergelak sendiri. “Ya udah, kalau kamu pengen lagi, Rinay. Tuh mumpung lagi berdiri…”
Hampir tak kuat aku menahan tawa dengan canda Cenit, tapi tampaknya Rinay menanggapinya dengan serius, dia menggerakkan pantatnya, memelukku dari atas dan mengempot ke bawah. Bibir kemaluannya terasa menempel di batang kemaluanku.
“Tuuh, kan! Pasti mau lagi deh! Terusin aja, Rinay. Enak kok!” sergah Cenit sambil memegangi pinggang gadis itu, menolongnya mengangkat panta, aku pun memegang pangkal kemaluanku, menghadapkannya ke memek Rinay yang hangat.
“Udah pas belum?” tanya Cenit, Rinay mengangguk, perlahan Rinay menurunkan pantatnya, maka…. Srrluuuup.. batang kemaluanku masuk lagi ke memek Rinay. “Main dari atas enak, lho Rinay! Tekan aja biar lebih kerasa…” bisik Cenit agak keras.
Seperti tak peduli kehadiran Cenit di kamar ini, kami mengulangi permainan semalam, tapi kali ini Posisi Rinay ada di atas. Kusuruh gadis itu menegakkan tubuhnya. Ia menurut dan mendorong tubuhnya dengan meletakkan telapak tangannya di dadaku.
Sekarang posisinya berubah, aku berbaring sementara Rinay duduk mengangkang di atasku. Alat kelamin kami telah menyatu, ketika ia sudah duduk dengan benar, nampak memeknya seperti sedang mengulum kemaluanku sampai ke pangkalnya. Kelentitnya nampak menonjol dan cairan itu kembali mengalir membasahi jembut-jembut halusnya.
Kami saling pandang sementara masih bersatu, bibir Rinay tersenyum, beberapa kali ia menyibakkan rambutnya yang kusut. Perlahan dia mulai mengayun, gerakanya seperti orang sedang naik kuda. Naik turun berirama.
Semenit aku lupa dengan kehadiran Cenit di sana. ternyata ia berdiri di belakang Rinay, memperhatikan kami yang sedang bercinta dengan gaya seperti itu. Gadis itu menyeringai lebar menampakkan sederetan giginya yang putih bersih.
Kemudian tiba-tiba ia membuka bajunya, menampakkan beha putih dengan buah dada besar di baliknya. Ia pun membuka beha itu, melemparkannya ke sudut kamar, menarik rok panjang, membuka celana dalam sampai akhirnya bugil sama sekali.
Ia pun menyerbu ke arahku, membenamkan wajahku di susunya yang besar dan kenyal, meremas-remas kepalaku dengan jemarinya. Sementara Rinay terus asyik mengayun-ayunkan pantatnya naik turun.
Aku memeluk punggung Cenit, mengulum dan mengunyah susunya yang kenyal. Cewek itu mendengus-dengus ketika putting susunya tergigit lembut.
Lama kami bercinta segitiga seperti itu, mungkin ada seperempat jam.
“Kita enak-enakan bareng, Kak.” Bisik Cenit sambil meremas. Aku setuju, dia sudah hampir sampai puncak, aku pun tak tahan dengan ulah Rinay, yang mengocok-ngocok dari atas….
Cenit melepas pelukannya dan naik ke atas ranjang, mendudukkan pantatnya di dadaku mengangkang lebar menampakkan memeknya yang tercukur rapi. Gundukan dagingnya putih mulus dan kemerahan, bibir kemaluannya tebal dan dipenuhi cairan kental dan hangat.
Ia memajukan memeknya sehingga sampai di mulutku. Kemudian mulai menekan ke arah mukaku. “Ahh… ayo Kak! Aku udah gak tahan lagi nih.”
Sambil meremas pinggang dan pantatnya aku pun beraksi. Mengganyang habis kue pie lembut dan basah itu. Cenit segera merintih-rintih ingin segera melepas nikmat. Sementar di belakangnya Rinay tiba-tiba mengempot dan menekan ke bawah,. Tubuhnya ambRinay ke depan, menimpa punggung Cenit yang sedang menekan mukaku.
Wajahku semakin tertekan oleh gumpalan memek Cenit, sementara pahanya menggepit kedua pipiku dengan kuatnya. Akkkh… aku hampir tidak bisa bernapas. Ya ampun!
“Keluarin bareng, Kak! Aghhh.. ahhh!”
Cenit menekan, Rinay mengempot, dan… aku sesak nafas!
Terdengar suara rintihan panjang berbarengan, Cenit dan Rinay sedang dirasuki kenikmatan. Terasa memek Rinay berdenyut-denyut sembari melepaskan cairan kewanitaannya, sementara mulutku semakin basah oleh cairan memek Cenit yang juga berdenyut melepas nikmat.
Kedua tubuh cewek itu lunglai setelah menikmati segalanya. Mereka ambruk berbarengan ke tubuhku. Berat sekali rasanya menahan dua tubuh perempuan sekaligus, montok-montok lagi.
Seperti menyadari hal itu, Cenit dan Rinay pun bangkit, perlahan Cenit turun dari ranjang, sementara Rinay pun perlahan mengangkat pahanya, kedua tangan bertumpu pada dadaku.
Saat itulah kemaluanku keluar dari liang sanggamanya, cleep.. terdengar seperti bunyi plastik lengket yang sedang dibuka. Tampak kemaluanku masih menegang dan basah bergelimang cairan memek Rinay.
Aku terdiam sejenak, tak tahu harus berbuat apa, karena aku belum lagi mencapai puncak gadis-gadis ini sudah menghentikan permainnya, ketika itulah tiba-tiba Liani masuk ke dalam kamar, melihat kepada Rinay dan Cenit yang sedang mengenakan pakaiannya kembali.
Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, matanya terpaku menatap kejantananku yang masih berdiri dengan perkasa, merah dan mengkilat bermandikan cairan kemaluan Rinay.
“Kasihkan sama Liani, Kak!” kata Cenit sambil menyempalkan susunya yang montok itu ke balik beha. Wajah Liani semburat memerah. Mungkin dia tadi mendengar lolongan Cenit dan Rinay yang berbarengan menahan geli dan enak. Aku tak tahu apakah dia juga sudah terangsang dan ingin di gelitik nikmat lagi?
Tampaknya iya, ia mengangkat roknya menampakkan kedua paha yang padat dan putih mulus. Sementara Rinay dan Cenit bergegas keluar kamar, meninggalkan kami berdua saja di sana. semerbak wangi harum tubuh Liasni menusuk hidungku. Gadis ini baru selesai mandi.
Liani naik ke ranjang bersiap-siap hendak memasukkan kejantananku ke memeknya yang, ya ampun, ternyata sudah bengkak merekah merah dan basah pula. Tapi siapa tahan menahan tubuhnya yang tinggi montok itu setelah tadi ditindih oleh dua gadis montok sekaligus.
Aku bangkit duduk, mendorong sedikit tubuh Liani, gadis itu seperti kaget. Tapi dia menurut. Kemudian kusuruh ia berdiri dan … ini dia aku ingin merasakan sesuatu yang lain.
Kusuruh ia berdiri membelakangiku dan menumpukan tangannya di dipan. Posisinya sekarang menungging di depanku, Liani mengerti, ia mengangkat pantatnya lagi, dari belakang disela-sela bongkahan pantatnya, nampak kemaluannya membelah. Cairan kental menitik-nitik banyak sekali.
Meski nafasnya ditahan, aku tahu gemuruh di dadanya sudah sedemikian hebat. Tampak dari buah dadanya yang menggelantung itu bergetar-getar menahan dentaman jantungnya yang meningkat dahsyat.
Aku ingin masuk dari belakang dan kemaluan Liani sudah siap untuk kutusuk dari arah itu. Liani semakin menunggit menampakkan bongkahan pantat dan memek yang merekah. Aku maju menyorongkan kejantananku ke arah belahan nikmat itu. Creepp.. kejantanankupun coba menerobos dan berusaha keras memasuki liang senggama Liani yang terbuka. Tapi gumpalan pantat Liani cukup menahan gerakananku.
Egghh.. aku mencoba lagi dan menekan lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, rasanya seperti dipilin-pilin. Aku menekan lagi… kemaluan kami semakin berjalin, tapi bongkahan pantat Liani seolah menahan gerakanku sehingga aku harus menekan agak lebih kuat.
“Emhh….” rintih Liani tertahan. “Tekan , Bang…. Emmghhh”
Aku bergerak maju mundur dan menekan-nekan, sekujur batang kemaluanku rasanya seperti dicengkram. Sambil agak membungkuk aku mencoba meraih buah dada Liani, meremas keduanya dari belakang. Hangat besar dan sangat kenyal. Putingnya kuputar-putar dengan dua ujung jari. Membuat gadis itu menggelinjang hebat dan semakin mengangkat pantatnya tinggi-tinggi agar kejantananku masuk lebih dalam.
Tubuh kami semakin berkeringat ketika rasa enak itu semakin memuncak. Aku pun menekan dan menggosok-gosok lagi dinding memek Liani yang merapat. Agak sulit main dari belakang, tapi kami menikmatinya. Beberapa manit kami menikmati permainan itu. Tubuh Liani maju mundur tertekan oleh gerakan tubuhku.
Ketika sedang asyik tiba-tiba gorden kamar kembali terkuak. Sosok tubuh Rinay masuk berkelebat, seperti tak memperhatikan kami gadis itu menuju ke ujung dipan, ternyata celana dalamnya ketinggalan di sana.
Kami tak mempedulikan kehadirannya dan terus saling menekan. Aku menekan ke depan sementara Liani menekan ke belakang. Kemaluan kami sudah begitu menyatu erat bermandikan cairan kental. Tubuh kami pun menegang dan basah oleh keringat yang membanjir. Rasa nikmat semakin meningkat, semakin lama semakin hebat.
“Aghhh…hhhh” aku menggeram menahan rasa. Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang kemaluanku. Liani merintih tak kalah dahsyat… bahkan lebih hebat dari erangan Cenit dan Rinay berbarengan.
“Bang… agh! Enak banget,…oh Aku gak tahan lagi!”
Samar kulihat Rinay mengenakan celana dalamnya…. Ketika itu pula aku dan Liani saling menekan hebat… menahannya dan merasakan detik-detik penuh kenikmatan. Nafas Liani melenguh-lenguh, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Memeknya menyempit dan … srrr….. keluar banjir yang hebat. Tubuhnya bergetar menahan rasa geli yang luar biasa. Aku pun menekan semakin dalam.
Mmhhh… berkali-kali kemaluanku seperti meledak dalam cengkraman memek Liani. Berkali-kali pula lipatan kemaluan gadis itu menyempit dan menggenggam kemaluanku kuat-kuat ketika ia pun melepas nikmat di pagi nan cerah itu.
Rinay mendehem kecil ketika kami menyudahi permainan itu dengan rasa puas. Liani menjatuhkan tubuhnya yang basah oleh titik keringat di dipan, menelentang dengan nafas masih terengah-engah. Bibir kemaluannya nampak membengkak, merah dan berkilat penuh dengan lendir. Rinay pun diam-diam keluar dari kamar, di dekat pintu ia menyibakkan rambut ikalnya, menjeling ke arahku, setelah itu ia pun berlalu.